Senin, 28 Mei 2012

When sun goes down



Ini adalah sebuah kisah, kisah sederhana dari sebuah percintaan luar biasa antara Eve dan Adam. Dua anak manusia biasa, yang diikat erat dalam suatu tali asmara. Kisah cinta mereka dengan mudah dimengerti semua orang. Meski tanpa pelukan, rayuan, ataupun ciuman mesra, sepasang mata yang menatap dengan mudah menggambarkan semuanya. Semudah itu. Sesederhana itu.


Sepasang sejoli itu sedang berjalan-jalan menyusuri ladang seperti biasanya. Adam mengayuh, dan Eve di belakang memegang bahunya kuat - kuat. Sesekali ia mengangkat sebelah tangannya—merapikan rambutnya yang diterpa angin. Mereka terhenti di sebuah ladang rumput yang cukup luas dan memandangi langit senja yang memerah.
Hening merayapi keduanya. Tetapi beginilah mereka—menghargai setiap sunyi yang ada, dan menggunakannya untuk menyalurkan perasaan pribadi masing-masing.
Sampai ..


"Adam, aku mau bicara sesuatu padamu,"


"Ada apa, Eve ? Kau sedang ada masalah ?"


"Tidak, tidak. Aku minta maaf sebelumnya, tadi pagi ada sedikit kebocoran di rumahku, kau mungkin tidak bisa menghubungiku untuk sementara ini. Dan besok, aku diajak paman Frank untuk mengunjungi rumah barunya. Mungkin aku mungkin tidak ada di rumah seharian penuh." Eve menatap kekasihnya itu dan tersenyum lembut.


"Jadi besok … kita tidak bisa bertemu ?"


"Maafkan aku, tapi kau tidak usah khawatir, lusa Paman Sam datang—ia sudah berjanji untuk memperbaiki jaringan teleponku yang rusak. Aku juga hanya akan menginap satu malam di rumah paman Frank."


"Itu berarti aku akan bertemu denganmu lusa ?"


" Aku akan menunggumu di gubuk." Jawab Eve.


Adam menatap Eve dengan senyuman terukir di wajahnya. Senyum yang tak bisa ia sembunyikan ketika ia sedang bersama gadis itu. Senyum yang membawa sejuta—oh, tidak— seribu juta perasaannya.


"Adam, apakah kau mencintaiku ?"


Adam terkekeh pelan, "Kau meragukan itu ?"


Eve tertunduk dan menggeleng pelan, "Tidak, tidak. Aku hanya ingin kau berkata, 'aku mencintaimu, Eve'" Eve berdiri dari rerumputan tempat ia bersimpuh dan menatap Adam lekat - lekat.


"Aku mencintaimu, Eve." Adam membalas tatapan Eve dan menatap gadis itu dengan senyuman, "Dan seumur hidupku, aku akan terus mencintaimu. Kau tidak boleh meragukan itu.” Lelaki itu menarik nafas singkat,"Ada apa denganmu hari ini, Eve ? Tidak biasanya kau begini."


Sejenak mereka saling berpandang-pandangan. Tanpa suara, tanpa kata, namun hati mereka saling berbicara. Bertanya – tanya antara satu dengan yang lainnya. Hembusan angin menyatukan keduanya, Adam memeluk tubuh mungil Eve yang menggigil kedinginan. Sampai kemudian Adam mencondongkan tubuhnya. Semakin dekat. Semakin dekat. Semakin dekat sampai kedua bibir mereka bertaut.


 
Callmemilii.blog.com    callmemilii.blog.com    callmemilii.blog.com




Esok pun tiba, sesuai apa yang dikatakan Eve, mereka tidak akan bertemu hari ini. Adam tidak yakin apakah ia mampu melewati satu hari tanpa wanita itu. Ia meraih bingkai lukisan di pojok rumah kecilnya. Kanvas itu dipenuhi dengan wajah seorang gadis. Pipinya merona merah jambu, rambutnya yang terurai membias kecoklatan diterpa cahaya sore, matanya menyipit disambut mulutnya yang tersenyum lebar. Gadis itu … Eve. Sebenarnya, Adam tidak benar – benar melukis ini pada saat Eve sedang tersenyum . Ia hanya mengingat  bagaimana gadis itu menyipitkan matanya, bagaimana lesungnya merona kemerahan, bagaimana gadis itu tersenyum padanya.
 Adam meraih sebuah kanvas kosong disela–sela rak kayunya, ia menggigit satu kuasnya dan mulai melukis dengan kuas lain.




Seberkas cahaya memantul dari sela-sela tirai di wajah Adam. Ia terbangun dari lantai, dan mengamati lukisan yang kemarin dibuatnya. Masih ada ruang putih di pucuk kanan kanvas itu. Adam membetulkan posisi duduknya, dan menggores-goreskan warna di pucuk kanvas itu.
Aku harus selesai sebelum matahari terbenam, Adam berkata kepada dirinya sendiri. Sampai Eve datang.






Cahaya kemerahan menghiasi langit yang tadinya biru itu. Matahari terbingkai separuh dibalik e’awanan yang mulai menenggelamkan dirinya. Semburat warna jingga memancar sempurna— menyinari seorang lelaki yang sedang berlari melewati ladang gandum—dengan kanvas dan mawar putih terapit di lengannya. Adam mengabaikan peluh dan nyeri di kakinya, ia terus berlari melintasi tangkai-tangkai gandum yang menguning diterpa cahaya senja. Sebentar lagi, sedikit lagi … Adam berkata kepada dirinya sendiri. Langkahnya melambat begitu melihat sebuah gubuk tua beratap daun Rumbia, berdiri ditengah hamparan hijau sawah.  Eve, hanya itu yang ada dipikirannya. Ia melangkahkan kakinya secepat yang ia bisa, sembari mengatur nafasnya yang takberaturan. Senyum mengembang di wajahnya, membayangkan ia akan segera bertemu lagi dengan Eve. Ia tidak sabar melihat gadis itu. Senyumnya. Suaranya. Semuanya . Adam melongokkan kepalanya, menyingkap tirai kain lusuh tersebut. Tak satu orangpun tertangkap di pandangannya. Bukannya Eve berjanji akan menemuiku di sini ?  Ia memutar haluannya, hendak menuju rumah Eve, begitu ia melihat rupa Eyang Sumbi—wanita tua yang biasanya menemani Eve di gubuknya. Adam berlari-lari kecil menghampiri wanita tua renta itu.
“Eyang,” ucapnya lirih, “Eyang melihat Eve ?”
Eyang Sumbi mengerutkan keningnya, sudah bisa dipastikan, ia tak mendengar apa yang Adam ucapkan mengingat usianya sudah sesenja itu.
“Ee..vee” Adam mengeja dan memperkuat amplitudonya, “Eyang melihat dia ?”
“Ru..mah .. sakit.” Eyang Sumbi berbicara dengan tertatih-tatih. Rupanya eyang mengerti apa yang diucapkannya. Tapi, apa yang Eve lakukan di rumah sakit ? Tiba-tiba, secuil perasaan tidak enak menguasai hatinya.
“Makasih eyang ” Adam berlari menuju tempat yang disebutkan Eyang. Hanya ada satu rumah sakit di kota ini, Adam tahu harus melangkahkan kakinya kemana.
Ia terhenti di sebuah gedung putih, diselimuti pepohonan rindang di kiri-kanannya. Pikirannya semakin kalut, perasaannya semakin tidak enak. . Ia harus bertemu Eve, ia benar-benar harus bertemu dengan gadis itu sekarang.
Tep!
Adam merasa ada seseorang yang menepuk pundaknya. Ia menoleh dan melihat seorang wanita—mirip dengan Eve—memegang erat bahunya “ Kau mau bertemu Eve, bukan ?” Lea menarik lengan Adam, berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit. Adam membiarkan dirinya terdiam oleh berbagai kemungkinan yang berputar di otaknya. Lea melepaskan cengkeramannya begitu mereka berdua terhenti di depan sebuah pintu putih bertuliskan angka “207” dibagian tengahnya.
Oh tidak … perasaannya semakin tidak enak…
“Kau boleh masuk,” Lea mempersilakan kekasih adiknya itu sembari menatapnya cemas.
Adam memegang kenop kuning dingin itu, dan memutarnya. Ada suara berdecit yang semakin membuat merinding ulu hatinya. Ia mendongakkan kepalanya perlahan,  menangkap wajah seorang gadis yang sedang tertidur nyenyak dibalut selimut putih itu..

Lukisan itu terjatuh. 


Apa maksudnya ini ? Siapa dia ?
Adam berusaha melangkah dengan kakinya yang mendadak lumpuh.
Tidak, ia tidak bisa melangkah, ia bahkan belum berjalan sesenti pun.
Hening di ruangan itu meremas hatinya.  Seseorang, siapapun !  Siapa gadis itu !?  Jangan katakan… Jangan coba coba katakan …
Adam merasa seseorang menggenggam pundaknya, membimbingnya untuk maju. Walaupun kulitnya tidak bersentuhan langsung dengan telapak orang itu, ia merasakan dingin, dingin yang begitu menusuk menghujam pundaknya.
Ia terhenti tepat di samping ranjang itu. Keraguannya terjawab, pertanyaannya terjawab.


Gadis itu adalah Eve.


Adam hampir menjerit keras begitu melihat wajah wanita itu ada disana. Tertidur dengan lelap, tanpa beban, tanpa dosa, dan tanpa hembusan nafas.  Ya, memang Adam selalu menyukai wajah Eve yang polos, tanpa ada cela dimanapun. Tapi tidak untuk saat ini…
Adam mendudukkan kepalanya, tubuhnya bergetar hebat menahan tangis. Butiran-butiran air mata jatuh menghujani seprai putih bersih itu. Ia mencengkeram selimut biru laut itu dengan segenap kekuatannya, “EVE KAU HARUS BANGUN, EVE ! KAU MASIH INGAT JANJIMU PADAKU DULU !? KAU BILANG KAU TIDAK AKAN PERNAH MENINGGALKANKU ! KAU BILANG KAU AKAN TERUS DI SISIKU ! Tapi kenapa … sekarang  .. sekarang…” Adam tersungkur lemas, ia berbisik pelan dengan seluruh sisa tenaganya, “Kau harus bangun, Eve” 

                                                     ***


Lea menyodorkan  secarik kertas kearah Adam. Lelaki itu menatapnya panjang, baru menyambut kertas lusuh tersebut.  Perlahan, ia membuka kertas itu, ia mengerjapkan matanya beberapa kali, dan kemudian menyadari tulisan itu tulisan Eve.
Adam, jika kau membaca surat ini, itu berarti aku sudah tidak ada di dunia ini. Aku minta maaf untuk tidak memberitahumu tentang semua ini. Aku tidak tahu kapan dan bagaimana caranya untuk bisa memberitahumu.
Adam merasa air matanya mulai terbit, ia menghela nafas panjang, dan mulai melanjutkan membaca.
Kau tahu betapa takutnya aku jika aku telah menghancurkan senyum dan tawamu mengagumkan itu ? Aku rasa aku bisa mengutuk diriku seumur hidup jika aku telah melakukan hal itu.
Kau sudah melakukannya, Eve. Kau sudah melakukannya …
Yah, mungkin aku sudah menyakitimu kali ini. Dan aku mengaku, aku sudah berbohong padamu soal telepon rumahku yang rusak, soal paman Frank. Aku hanya tidak mau, kau melihatku di saat detik-detik ajalku. Maukah kau memaafkanku, Adam ?
“Lea,” Adam memalingkan wajahnya dar surat itu, menghadap Lea, “Pukul berapa Eve….pergi ?” Terlihat, Lea agak terkejut mendengar pertanyaan Adam, “Sesaat sebelum kau datang, sebenarnya. Tapi dari kemarin kondisinya sudah parah. Dokter bahkan belum bisa menyimpulkan penyakit apa yang dideritanya.”
Dan satu hal yang harus selalu kau ingat, Adam. Aku mencintaimu. Lebih dari hidupku sendiri. Kau tidak akan melihatku mati, Adam. Karena aku akan terus hidup selama kau mencintaiku. Di hatimu.
Adam menghembuskan nafas perlahan dari hidungnya, ia menutup mata sejenak, berusaha merasakan Eve yang hidup di hatinya.
Maukah kau menunggu, Adam ? Menunggu sampai saat itu tiba dan kita akan bersama lagi ? Aku tidak bisa pastikan itu kapan, namun satu yang bisa aku janjikan, aku akan terus menunggumu, Adam. Entah berapa tahun lamanya itu, aku akan tetap berada di sini, menunggumu bersama Bapa-ku disini.
Adam berlari menuju kamar rawat Eve, ia membuka—setengah membanting—pintu kamar tersebut dan berdiri di samping ranjang tempat Eve berbaring, menggenggam erat tangannya, “Aku tidak menyalahkanmu atas apapun juga, Eve. Sama sekali tidak. Dan terimakasih telah menungguku.”  Ia menatap gadis itu dengan mata berkaca-kaca, seolah seluruh emosi jiwanya tertumpah disana. “Aku akan selalu mencintaimu, Eve.  Selalu. Ingat itu.”
Adam mengamati gadis yang dicintainya itu untuk terakhir kalinya. Pandangannya terhenti begitu melihat seikat mawar putih tergenggam erat di dada gadis itu. Adam mengernyitkan dahinya, mawar ini …
“Eve tidak mau melepaskan mawar itu dari genggamannya sejak kemarin.”  Lea muncul dari balik pintu kamar, “Dia bilang, mawar itu darimu. Mawar yang kau berikan dari awal pertemuan kalian sampai terakhir kalian bertemu.” Adam memandang lekat-lekat bunga mawar putih itu, “Dia menyimpan semuanya ?” Lea mengangguk dan tersenyum tipis, “Dia bahkan mengancam akan membenciku jika aku membuangnya.”
Adam membelai rambut berwarna karamel itu untuk terakhir kalinya.  Ia dapat merasakan kelembutan di setiap helainya, seperti biasa. Wajahnya yang mungil, bola matanya yang bulat, semua itu takkan ia lupakan. Adam dapat merasakan air mata mulai membendung di pelupuknya.


Thanks God, you’ve given me such an beautiful angel


“Mama, mama.” Seorang bocah menarik-narik ujung rok ibunya. “Pria itu aneh sekali, bertahun-tahun aku melihatnya, ia selalu datang setiap hari dan itu selalu pukul 3 sore. Ia juga selalu meletakkan mawar putih di makam bibi, dan terkadang aku melihatnya bercakap-cakap dengan makam. Kau kenal dengannya, mama ? ” Tanya bocah itu, polos. Matanya tertuju pada makam tua berjarak beberapa meter di sebelahnya. Lea mengikuti arah pandangan buah hatinya, dan tersenyum mendapati lelaki itu bersimpuh sambil meletakkan bunga mawar putih di makam adiknya, “Dulu, bibimu adalah kekasih lelaki itu. Mereka berdua saling mencintai sampai akhirnya bibimu divonis suatu penyakit langka yang perlahan-lahan merenggut nyawanya.” Jawab Lea. “Kebersamaan mereka diakhiri dengan kematian bibimu, waktu itu kau belum lahir, jadi kau tidak tahu bagaimana keadaannya saat itu,” Lea menerangkan tanpa ditanya, “Lelaki itu berusaha terlihat tegar, meskipun pada awalnya ia menangis. Aku yakin, ia tidak mau terlihat lemah dihadapan Eve.” Lea mengakhiri penjelasannya.  Dave— bocah kecil itu— manggut – manggut tanda mengerti. “Dia … begitu mencintai bibi ya ?” Mereka memandang Adam yang mulai bercakap – cakap dengan batu nisan dihadapannya dengan senyum mengembang di wajah lelaki itu. “Iya,” Lea menggenggam tangan anaknya, “Sangat.”




Callmemilii.blog.com    callmemilii.blog.com    callmemilii.blog.com






Thanks for reading :D
Di sela-sela pembuatan Bouillabaisse part 3, tiba - tiba muncul inspirasi buat cerita ini . Dan ini pertama kalinya aku nulis cerpen sad ending, jadi kalau ada kurang-kurang harap maklum yaa (entah kenapa, aku ngerasa kalau paragraf awal - awal itu rada alay ya ?) *bow down* ditunggu komen dan sarannya :)

*btw, Bouillabaisse part 3nya masih on progress :)