Senin, 30 April 2012

Bouillabaisse part 2 :)

Xara duduk termenung menatap iPhonenya yang sedang menayangkan MV Carly Rae Jepsen – Call me maybe. Ia sudah menyetel lagu ini puluhan kali, dan ini adalah kali pertama ia melamun saat mendengarkan lagu itu. Biasanya ia akan menggerakkan kakinya, jarinya, kepalanya begitu mendengar lagu ini dimainkan.
Tep!
Xara merasa ada seseorang yang menepuk pundaknya. Ia menoleh dan mendapati Elizabeth Dubois tersenyum lebar padanya. Ia menarik dan menduduki kursi didepan Xara. “Tidak biasanya kau datang jam segini.” Sindir Eliz. “Memangnya tidak boleh ?”Xara melepas Headphonenya dan menatap Eliz. Eliz menggeleng, “Tidak. Kalau kau datang pagi, reputasiku sebagai ‘waitress of the month’ akan tersingkir.” Xara ikut tertawa mendengar lelucon sahabatnya itu, mengingat tidak ada ajang seperti waitress of the month di L’ambrosie. “Lagu apa ?” Tanya Eliz sambil menunjuk iPhone yang dari tadi dipegang Xara. Xara baru akan menjawab, ketika mendengar namanya dipanggil oleh seseorang. Ia menoleh menatap jendela dan mendapati …
Sebastien.
Lelaki itu tersenyum dari seberang jalan dan mengatakan sesuatu padanya tanpa suara.
Melihat barang – barang bawaannya, Xara mengerti apa yang harus ia lakukan.
Ia beranjak dari kursi, meninggalkan Eliz yang terlihat masih menunggu jawabannya, tepat ketika Sebastien menyeberang jalan. Ia membuka pintu masuk, dan dengan setengah terengah Sebastien berlari menaruh belanjaannya di samping pintu itu.
“Merci” Ucap Sebastien sesaat sebelum ia mendaratkan kantung – kantung plastiknya di tanah.
“Kau bawa apa saja ? Banyak sekali.” Xara mengamati kantung-kantung plastik itu satu persatu. Sebastien mendongak kearah Xara sejenak, “Bahan untuk hari ini,” Ia kembali melanjutkan menata belanjaannya, “Bibi Macy tidak bisa datang hari ini.” Ia menggotong belanjaannya, hendak melangkah ke dapur.
“Oh.” Bibi Macy adalah wanita yang ditugaskan untuk menyiapkan bahan-bahan untuk para koki, sekaligus merangkap manager di resto ini.
“Xara,” Eliz menarik tangan sahabatnya itu, “Sejak kapan kau dan dia seakur ini ?” Bisiknya pelan. “Kenapa ? Kau juga yang dulu menyuruhku untuk tidak memandangnya sebagai ..   Peter, kan ?” Xara bisa merasakan tenggorokannya berat saat akan mengucapkan nama lelaki itu. Gosh…
“Yah, memang. Tapi… ” Eliz menggigit bibirnya seperti sedang mencoba untuk mengucapkan sesuatu, “Kau sebaiknya jangan dekat-dekat dengan dia.”


Callmemilii.blog.com    callmemilii.blog.com    callmemilii.blog.com


Sebastien melangkahkan kakinya keluar ruangan. Sudah hampir jam 3. Saatnya istirahat makan siang. Ia berniat mengajak Xara dan Eliz makan bersama . Tentu jika mereka tidak keberatan. Karena baginya, makan siang sendirian sangat tidak menyenangkan. Ia melirik mengamati ruangan yang biasa mereka kunjungi saat istirahat makan siang. Kosong. “Kemana mereka ?” Pikir Sebastien kesal. Sebenarnya, tadi, Sebastien sudah diajak untuk makan siang bersama oleh Anthony dan segerombolan Chef lainnya, namun ia menolak. Karena … Yah, ia ingin makan siang dengan gadis itu. Ia ingin makan siang dengan Xara.
Dan sekarang ia menyesali keputusannya itu. Ia tadi seharusnya menerima tawaran Anthony.

Gang kecil itu tampak ramai. Ia bisa maklum, karena memang hanya Resto di gang ini yang tetap buka saat jam makan siang pegawai. Sebastien berjalan menyusuri deretan Café yang dipenuhi pengunjung itu sendirian. Dan diantara mereka ia melihat … “Xara ?”


Callmemilii.blog.com    callmemilii.blog.com    callmemilii.blog.com


Xara menjejakkan kakinya dengan kesal beberapa menit setelah Eliz meninggalkan dia demi menemani Edbert—kekasihnya—makan siang. Ia tahu, kalau tadi ia ikut bersama Eliz, ia pasti juga akan jadi ‘obat nyamuk’ disana. Tapi kan … “Ah, sudahlah!” Xara mengomeli dirinya sendiri. Ia memandang sekelilingnya, dan mendapati lelaki dengan rambut coklat sedang melambai-lambaikan kedua tangan ke arahnya.
Xara tidak dapat menahan dirinya untuk tersenyum. Tidak, tidak. Bukan karena ia mulai tertarik kepada lelaki itu, hanya karena caranya melambai-lambaikan tangan terlihat lucu. Ia tersenyum karena cara Sebastien melambaikan tangan, tidak ada alasan lain.
“Temani aku makan,” pinta Sebastien tepat saat Xara berada 15 senti di depannya. Ia menarik lengan Xara, tanpa menunggu jawaban gadis itu. Xara berpikir untuk melepaskan lengannya dari genggaman Sebastien, namun ia mengurungkan niatnya. Ia mensugesti dirinya sendiri, Ia menarik lenganku hanya sebagai teman bukan ?
Mereka terhenti di sebuah resto klasik bernuansa romawi. Di setiap sudut-sudut ruangan selalu tampak hiasan berupa patung-patung wanita dan prajurit. Xara mengamati sekeliling ruangan itu, hampir semua tempat duduk penuh. Namun entah mengapa, ruangan terasa sepi. Hanya musik yang dapat didengar Xara, tidak ada suara bercanda, bercakap-cakap dan semacamnya. Semua pengunjung di tempat itu seperti sedang menikmati sesuatu.  Xara juga merasa ada yang aneh dengan arsitektur resto ini. Semua tempat duduk seperti dirancang untuk selalu menghadap jendela. Secara tidak sengaja pandangan Xara terlempar kearah jendela besar itu. Mulutnya ternganga …
“Kau boleh bilang ‘wow’ nanti,” Sebastien menyeret kursi Xara, baru kemudian duduk di kursinya. Xara duduk dengan perlahan, pandangan matanya tidak dapat lepas dari apa yang ada di balik jendela itu.  Semua itu terlalu mempesona.
Jendela itu bagai sebuah kanvas, yang di sisi kanannya dilukis dengan bulatan-bulatan bunga tulip putih dan pepohonan yang kering kerontang di sisi seberangnya. Dua objek menarik itu dipisahkan oleh aliran sungai bewarna hijau jernih. Di antara pohon-pohon tak berdaun itu, terdapat sebuah rumah kecil yang terbuat dari kayu, yang terlihat mencolok disinari cahaya mendung langit.
“Xara, kau mau pesan apa ?” Tanya Sebastien. “A-aku tidak makan. Dompetku ketinggalan” Jawab Xara gugup. Tadi Sebastien berkata hanya untuk menemaninya makan bukan ?
“Setidaknya kau pesan sesuatu. Tenang saja, aku yang traktir.” Sebastien menyodorkan buku menu kepada Xara. Ragu ragu ia membuka sampul coklat tebal itu perlahan, dan membaca isinya. Ia terperanjat melihat angka angka yang tertera disana, “Aku tidak lapar.” Xara menutup buku menu itu dan menyerahkannya ke Sebastien. Sebastien menatapnya untuk sesaat, “Kau yakin?”
Xara mengangguk. Lagipula ia ingin untuk lebih menikmati pemandangan di depannya. Entah kenapa, dengan melihat bunga tulip, pohon pohon kering, serta cuaca mendung membuat hatinya lebih … damai. Tidak ada hening yang merayapi mereka selama menunggu pesanan datang, Bahkan sampai pesanan Sebastien datang. Xara merasa Sebastien adalah teman mengobrol yang menyenangkan. Ia dapat dengan leluasa bercanda, mengemukakan pendapatnya, tertawa sekeras-kerasnya … Dan  Oh, oh, pernah suatu kali mereka tertawa terlalu keras, sangat keras sampai hampir seluruh pengunjung di resto itu menatap kearah mereka. Ia tidak tahu mengapa dulu ia bisa menyamakan Sebastien dengan Peter ...


Callmemilii.blog.com    callmemilii.blog.com    callmemilii.blog.com


Xara melirik jam tangannya, sudah jam 6, saatnya pergantian shift. “Akhirnya,” batin Xara. Dengan cepat, ia berjalan menuju locker room. Xara takut, jika lebih lama dari ini, perutnya yang mulai meronta kelaparan ini akan menimbulkan masalah baginya. Misalnya saja dari yang terburuk : pingsan. Mungkin ia sudah bersikap bodoh dengan menolak Sebastien mentraktirnya pada saat makan siang tadi. Ia meraih tas ranselnya dan melihat kotak plastik—seperti kotak bekal— di sudut sisi lokernya. Ia mengambil kotak plastik itu dan membaca memo di atasnya.

Aku tahu kau lapar, Xara. Jangan menyangkal itu. Kuharap kau tidak ada masalah dengan seafood.
Sebastien ‘Imnotpeter’

Sebastien ? Dia yang melakukan semua ini ?
Xara tersenyum tanpa alasan dan segera melahap habis makanan yang dirasakannya sebagai Bouillabaisse itu. Sejenak, ia merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Dan memori akan ucapan Sebastien setelah ia meminta maaf pada saat itu terulang …

‘Kurasa aku tertarik padamu’


Callmemilii.blog.com    callmemilii.blog.com    callmemilii.blog.com
Callmemilii.blog.com    callmemilii.blog.com    callmemilii.blog.com
To be continued…


Thanks for reading :)
Comment please :D means alot for me C:

Minggu, 15 April 2012

Bouillabaisse :)

PROLOG
Gadis itu membencinya. Itulah anggapan pertama Sebastien ketika melihat Xara. Bibirnya selalu mengatup saat mereka berbicara. Tidak pernah tersenyum walaupun Sebastien sedang menceritakan lelucon padanya. Xara juga selalu menatap tajam ke arahnya, membuat Sebastien selalu berpikir 5 kali akan apa yang sedang ia perbuat.


Callmemilii.blog.com  callmemilii.blog.com  callmemilii.blog.com






Pagi itu pagi yang indah bagi Xara. Cuaca mendung dan berangin menyejukkan hatinya. Ia melangkah masuk dan tersenyum lebar, “Bonjour” sapanya kepada Elizabeth. Elizabeth menoleh dan tersenyum, “Hai, kau mau ?” tanyanya sambil menyodorkan sebungkus plastik potato chips. “Tidak, tidak. Bukannya kau tahu kalau aku sedang diet ? Ah, ngomong ngomong, dia sudah datang ?” Tanya Xara hati hati. Elizabeth memutar kepalanya, “Tuh,” Xara melongokkan kepalanya untuk melihat apa yang dilihat Elizabeth. Ia menyadari sosok itu. Sebastien sedang sibuk mengaduk-aduk baskom berisi cairan kental sambil sesekali melihat tulisan di sebelahnya. “Dia sedang belajar resep baru.” Jelas Eliz tanpa ditanya. Xara hanya mangut-mangut  mendengar penjelasan Eliz. Sejenak perasaan bahagia yang dirasakannya beberapa menit yang lalu lenyap. Xara tidak ingin bertemu dengan dia. Xara tidak ingin bertemu dengan Sebastien. Terlambat. Sebastien sudah menyadari keberadaannya. Ia tersenyum kepada Xara—entah terpaksa atau tidak—“Xara, kau sudah datang ?” Xara menarik nafas dalam dalam, “Kalau aku belum datang, lalu yang kau lihat ini siapa ?” balas Xara tanpa ada unsur candaan sama sekali di setiap kata-katanya. Sebastien tertawa, “Iya, iya, aku minta maaf sudah menanyakan pertanyaan semacam itu” Xara mengabaikan jawaban Sebastien. Ia berjalan menuju locker room dan meletakkan tas punggungnya di sana. Begitu ia kembali, ia melihat wanita dan pria duduk di meja dan melihat-lihat menu di atas meja mereka. Dengan setengah berlari ia menghampiri pasangan muda tersebut. Mendengarkan, mencatat, dan mengulang makanan yang mereka pesan.





Callmemilii.blog.com  callmemilii.blog.com  callmemilii.blog.com









Sebastien mengangkat kedua sudut bibirnya, melihat gadis itu berlari tergopoh-gopoh menghampiri pengunjung. Ia kira hari ini mood Xara sedang bagus, tapi rupanya ia salah.  Kalau mood Xara sedang bagus, seharusnya gadis—paling tidak— tersenyum padanya. Atau membalas ucapannya.
“Pesanan” Xara menggantungkan sebuah kertas kecil dengan penjepit di depan Sebastien. “Oh,” Sebastien membaca tulisan di depannya. 2 Rosella tea dan croissant. Ia melipat lengan bajunya, meletakkan tray berisi adonan di oven, dan menunggu sampai bunyi ting terdengar.



Callmemilii.blog.com  callmemilii.blog.com  callmemilii.blog.com









 “Kau belum pulang ? Bukannya setelah ini ada penggantian shift ?” Tanya Sebastien kepada perempuan didepannya. Xara menatap Sebastien sekilas dan kembali melanjutkan mengobrak-abrik tasnya.  “Dompetku hilang” gumamnya tanpa menoleh Sebastien. Sebastien menatap perempuan itu lekat-lekat, “Mau kubantu ?” Xara sejenak berhenti dari aktivitas mengobrak-abriknya, “Terserah kau.” Ia menatap tangan Sebastien dan menunjuk kearah kotak plastik yang dipegangya, “Apa itu ?” Sebastien meletakkan mangkuk plastik itu di bangku sebelahnya, “Bouillabasse, kau mau ?” Tanya Sebastien menawarkan. Mendengar Xara tidak menjawab pertanyaannya, ia meneruskan mencari dompet Xara.  Xara terdiam memandangnya untuk beberapa saat, baru kemudian berjongkok dan menyingkirkan segala sesuatu yang ada di hadapannya. Sebastien menelusuri jalan yang tadi dilewatinya. Menyapu setiap sudut ruangan. Pandangannya terhenti begitu melihat benda cokelat bergaris garis hitam dan merah tergeletak di depannya. Ia membuka dompet itu untuk memastikan dompet itu milik Xara. Matanya terbelalak melihat  foto yang terpampang disana. Dua sosok yang ia yakini sebagai Xara dan—mungkin—pacarnya tersenyum lebar menghadap kamera. Lelaki itu merangkul pundak Xara, dan seumur hidup Sebastien bekerja di L’ambrosie ia tidak pernah melihat Xara sebahagia itu. Bahkan ketika ia sedang bersama Eliz. “Kau sudah menemukannya ? Dompetku ?” Mendengar suara Xara dibelakangnya, spontan Sebastien berbalik dan menjatuhkan dompet yang ia pegang. Xara menatap Sebastien curiga, ia maju selangkah dan mengambil dompetnya, membuka isinya, dan bertanya dengan nada menyelidik, “Kau melihat isinya?” Sebastien menelan ludah. Ia benar-benar bingung akan apa yang harus ia katakana saat itu. Dan akhirnya, “Maafkan aku,” Ia mendongak menatap Xara, “Awalnya aku hanya ingin memeriksa apakah itu dompetmu atau bukan.. dan aku tidak sengaja melihat fotomu disana.” Sunyi merayapi mereka berdua. Sebastien merasa sudah menjelaskan semuanya, dan ia melakukan hal yang benar. Ia sudah siap apabila Xara Eloise akan marah padanya, membanting meja, atau bahkan menghabisinya ditempat.
Namun kenyataan berkata sebaliknya, Xara hanya diam dan menatap Sebastien sampai seorang pekerja shift malam datang dan mengambil alih tugasnya.




Callmemilii.blog.com  callmemilii.blog.com  callmemilii.blog.com







Mungkin kenyataan tidak sepenuhnya berbeda, hari ini Xara menjadi lebih pendiam kepada siapa saja. Si-a-pa-sa-ja. Kepada Eliz, kepada Mabel, dan—tentu saja—kepadanya. Mungkin Sebastien telah melanggar privasi gadis itu kemarin. Ia tidak seharusnya membuka dan melihat isi foto dompet itu. Sebastien mengutuki dirinya sendiri.
Baiklah, sepulang kerja nanti, ia akan meminta maaf kepada Xara tentang hal kemarin, Sebastien bertekad dalam hati. Ia melirik Xara yang sedang ‘bercanda tawa’ dengan Eliz walaupun disana terlihat sekali bahwa Xara tidak sedang tertawa.



Callmemilii.blog.com  callmemilii.blog.com  callmemilii.blog.com







Xara meraih tas punggungnya, dan menutup pintu loker. Ia baru akan melangkah ketika menyadari Sebastien sedang berdiri di hadapannya. “Xara,”bisiknya pelan, “Aku benar benar meminta maaf karena sudah melanggar privasimu—jika itu yang kau pikirkan.” Xara bisa melihat Sebastien adalah perayu yang handal, karena seketika waktu itu juga, Xara luluh karena ucapannya. “Kau tidak perlu meminta maaf. Bukan salahmu.” Xara menggeser bahu Sebastien dan pergi meninggalkannya begitu saja.
“Sebenarnya apa salahku ?” Sebastien berbalik, menyambar tangan Xara dan menahannya.
“Kau tidak salah apa- apa.”
“Lalu kenapa kau bersikap sinis padaku ?”
“Aku tidak sinis padamu.”
“Jelas kau sinis padaku, hanya orang buta yang tidak bisa melihatnya.” Ucap Sebastien geram. Ia sudah mencoba bersikap ramah terhadap gadis itu namun rasanya sikap ramahnya itu tidak berarti apa apa bagi Xara.
Dan, Oh ya, kesabaran ada batasnya.
“Kau hanya mirip dengan Peter. Bahkan terkadang aku merasa aku sedang bersamanya ketika menatapmu.”
Peter ? Siapa itu ?
Seakan bisa membaca pikiran Sebastien, “Dia pacarku. Tapi kami sudah putus beberapa bulan yang lalu.” Xara menegaskan
“Kenapa … kau putus ?” Sebastien meragukan pertanyaan ini, ia takut kalau gadis itu akan memusuhinya lagi, menatapnya sinis lagi…
Ternyata tidak.
“Dia mengkhianatiku.” Xara menarik nafas panjang. Aku harus memberitahunya, harus.
“Selingkuh ?”
“Bukan, ehm, lebih seperti… memfitnah.” Xara membasahi bibirnya yang kering, “Dulu dia koki disini, sama sepertimu. Dan entah mengapa, setiap aku melihatmu, aku melihatnya. Mungkin karena kau terlalu mirip dengannya. Konyol memang, tapi yah, begitulah.”
Sebastien menghembuskan nafas lega. Ternyata.. Selama ini Xara selalu melihatnya sebagai Peter, bukan sebagai Sebastien. Dan itu berarti Xara membenci Peter. Bukan Sebastien.
“Dengar Xara,” Sebastien menggenggam erat bahu Xara, “Aku memang tidak tahu pasti tentang hubunganmu dengan Peter tapi yang jelas,  Aku bukan Peter” Sebastien menekankan tiga kata terakhir yang ia ucapkan.
Xara bisa merasakan matanya berair. Ia merasa begitu bodoh karena sudah menyamakan dua pribadi yang jelas jelas  berbeda. Xara bisa melihat dirinya sendiri di pantulan mata Sebastien. Terlihat sangat berantakan. Berantakan dan tolol.
“Aku bukan Peter. Aku tidak akan mengkhianatimu.”
Air mata Xara jatuh saat Sebastien mengucapkan kalimat itu. Ia tahu ia salah, “Maaf, aku…”Xara menghapus air matanya dan memaksa suara keluar dari tenggorokannya, “Aku minta maaf atas sikapku yang bodoh selama ini. Aku egois karena sudah…”
“Kau tidak salah apa apa. Mungkin kau hanya… trauma.” sahut Sebastien memotong kalimat Xara barusan. Ia melingkarkan tangannya di bahu Xara. “Dan jangan salahkan aku, Xara. Kurasa aku mulai tertarik padamu.”



 To be continued.. :)


Comment please :)
 Thanks :D Hope U like it 
Sorry kalo ada typo :(