Xara duduk termenung menatap iPhonenya yang sedang menayangkan MV Carly Rae Jepsen – Call me maybe. Ia sudah menyetel lagu ini
puluhan kali, dan ini adalah kali pertama ia melamun saat mendengarkan lagu
itu. Biasanya ia akan menggerakkan kakinya, jarinya, kepalanya begitu mendengar
lagu ini dimainkan.
Tep!
Xara merasa ada seseorang yang menepuk pundaknya. Ia menoleh
dan mendapati Elizabeth Dubois tersenyum lebar padanya. Ia menarik dan
menduduki kursi didepan Xara. “Tidak biasanya kau datang jam segini.” Sindir
Eliz. “Memangnya tidak boleh ?”Xara melepas Headphonenya
dan menatap Eliz. Eliz menggeleng, “Tidak. Kalau kau datang pagi, reputasiku
sebagai ‘waitress of the month’ akan
tersingkir.” Xara ikut tertawa mendengar lelucon sahabatnya itu, mengingat
tidak ada ajang seperti waitress of the
month di L’ambrosie. “Lagu apa ?”
Tanya Eliz sambil menunjuk iPhone yang dari tadi dipegang Xara. Xara baru akan
menjawab, ketika mendengar namanya dipanggil oleh seseorang. Ia menoleh menatap
jendela dan mendapati …
Sebastien.
Lelaki itu tersenyum dari seberang jalan dan mengatakan
sesuatu padanya tanpa suara.
Melihat barang – barang bawaannya, Xara mengerti apa yang
harus ia lakukan.
Ia beranjak dari kursi, meninggalkan Eliz yang terlihat masih
menunggu jawabannya, tepat ketika Sebastien menyeberang jalan. Ia membuka pintu
masuk, dan dengan setengah terengah Sebastien berlari menaruh belanjaannya di samping
pintu itu.
“Merci” Ucap Sebastien sesaat sebelum ia mendaratkan kantung
– kantung plastiknya di tanah.
“Kau bawa apa saja ? Banyak sekali.” Xara mengamati
kantung-kantung plastik itu satu persatu. Sebastien mendongak kearah Xara
sejenak, “Bahan untuk hari ini,” Ia kembali melanjutkan menata belanjaannya,
“Bibi Macy tidak bisa datang hari ini.” Ia menggotong belanjaannya, hendak
melangkah ke dapur.
“Oh.” Bibi Macy adalah wanita yang ditugaskan untuk
menyiapkan bahan-bahan untuk para koki, sekaligus merangkap manager di resto
ini.
“Xara,” Eliz menarik tangan sahabatnya itu, “Sejak kapan kau
dan dia seakur ini ?” Bisiknya pelan. “Kenapa ? Kau juga yang dulu menyuruhku
untuk tidak memandangnya sebagai .. Peter,
kan ?” Xara bisa merasakan tenggorokannya berat saat akan mengucapkan nama
lelaki itu. Gosh…
“Yah, memang. Tapi… ” Eliz menggigit bibirnya seperti sedang mencoba untuk mengucapkan sesuatu,
“Kau sebaiknya jangan dekat-dekat dengan dia.”
Callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com
Sebastien melangkahkan kakinya keluar ruangan. Sudah hampir
jam 3. Saatnya istirahat makan siang. Ia berniat mengajak Xara dan Eliz makan
bersama . Tentu jika mereka tidak keberatan. Karena baginya, makan siang sendirian
sangat tidak menyenangkan. Ia melirik mengamati ruangan yang biasa mereka
kunjungi saat istirahat makan siang. Kosong. “Kemana mereka ?” Pikir Sebastien
kesal. Sebenarnya, tadi, Sebastien sudah diajak untuk makan siang bersama oleh
Anthony dan segerombolan Chef lainnya, namun ia menolak. Karena … Yah, ia ingin
makan siang dengan gadis itu. Ia ingin makan siang dengan Xara.
Dan sekarang ia menyesali keputusannya itu. Ia tadi
seharusnya menerima tawaran Anthony.
Gang kecil itu tampak ramai. Ia bisa maklum, karena memang
hanya Resto di gang ini yang tetap buka saat jam makan siang pegawai. Sebastien
berjalan menyusuri deretan Café yang dipenuhi pengunjung itu sendirian. Dan
diantara mereka ia melihat … “Xara ?”
Callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com
Xara menjejakkan kakinya dengan kesal beberapa menit setelah
Eliz meninggalkan dia demi menemani Edbert—kekasihnya—makan siang. Ia tahu,
kalau tadi ia ikut bersama Eliz, ia pasti juga akan jadi ‘obat nyamuk’ disana. Tapi
kan … “Ah, sudahlah!” Xara mengomeli dirinya sendiri. Ia memandang
sekelilingnya, dan mendapati lelaki dengan rambut coklat sedang
melambai-lambaikan kedua tangan ke arahnya.
Xara tidak dapat menahan dirinya untuk tersenyum. Tidak,
tidak. Bukan karena ia mulai tertarik kepada lelaki itu, hanya karena caranya
melambai-lambaikan tangan terlihat lucu. Ia tersenyum karena cara Sebastien
melambaikan tangan, tidak ada alasan lain.
“Temani aku makan,” pinta Sebastien tepat saat Xara berada 15
senti di depannya. Ia menarik lengan Xara, tanpa menunggu jawaban gadis itu.
Xara berpikir untuk melepaskan lengannya dari genggaman Sebastien, namun ia
mengurungkan niatnya. Ia mensugesti dirinya sendiri, Ia menarik lenganku hanya
sebagai teman bukan ?
Mereka terhenti di sebuah resto klasik bernuansa romawi. Di
setiap sudut-sudut ruangan selalu tampak hiasan berupa patung-patung wanita dan
prajurit. Xara mengamati sekeliling ruangan itu, hampir semua tempat duduk
penuh. Namun entah mengapa, ruangan terasa sepi. Hanya musik yang dapat
didengar Xara, tidak ada suara bercanda, bercakap-cakap dan semacamnya. Semua
pengunjung di tempat itu seperti sedang menikmati sesuatu. Xara juga merasa ada yang aneh dengan
arsitektur resto ini. Semua tempat duduk seperti dirancang untuk selalu
menghadap jendela. Secara tidak sengaja pandangan Xara terlempar kearah jendela
besar itu. Mulutnya ternganga …
“Kau boleh bilang ‘wow’ nanti,” Sebastien menyeret kursi
Xara, baru kemudian duduk di kursinya. Xara duduk dengan perlahan, pandangan
matanya tidak dapat lepas dari apa yang ada di balik jendela itu. Semua itu terlalu mempesona.
Jendela itu bagai sebuah kanvas, yang di sisi kanannya
dilukis dengan bulatan-bulatan bunga tulip putih dan pepohonan yang kering
kerontang di sisi seberangnya. Dua objek menarik itu dipisahkan oleh aliran
sungai bewarna hijau jernih. Di antara pohon-pohon tak berdaun itu, terdapat
sebuah rumah kecil yang terbuat dari kayu, yang terlihat mencolok disinari
cahaya mendung langit.
“Xara, kau mau pesan apa ?” Tanya Sebastien. “A-aku tidak
makan. Dompetku ketinggalan” Jawab Xara gugup. Tadi Sebastien berkata hanya
untuk menemaninya makan bukan ?
“Setidaknya kau pesan sesuatu. Tenang saja, aku yang
traktir.” Sebastien menyodorkan buku menu kepada Xara. Ragu ragu ia membuka sampul coklat
tebal itu perlahan, dan membaca isinya. Ia terperanjat melihat angka angka yang
tertera disana, “Aku tidak lapar.” Xara menutup buku menu itu dan
menyerahkannya ke Sebastien. Sebastien menatapnya untuk sesaat, “Kau yakin?”
Xara mengangguk. Lagipula ia ingin untuk lebih menikmati
pemandangan di depannya. Entah kenapa, dengan melihat bunga tulip, pohon pohon
kering, serta cuaca mendung membuat hatinya lebih … damai. Tidak ada hening
yang merayapi mereka selama menunggu pesanan datang, Bahkan sampai pesanan
Sebastien datang. Xara merasa Sebastien adalah teman mengobrol yang
menyenangkan. Ia dapat dengan leluasa bercanda, mengemukakan pendapatnya,
tertawa sekeras-kerasnya … Dan Oh, oh,
pernah suatu kali mereka tertawa terlalu keras, sangat keras sampai hampir
seluruh pengunjung di resto itu menatap kearah mereka. Ia tidak tahu mengapa
dulu ia bisa menyamakan Sebastien dengan Peter ...
Callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com
Xara melirik jam tangannya, sudah jam 6, saatnya pergantian shift. “Akhirnya,” batin Xara. Dengan
cepat, ia berjalan menuju locker room.
Xara takut, jika lebih lama dari ini, perutnya yang mulai meronta kelaparan ini
akan menimbulkan masalah baginya. Misalnya saja dari yang terburuk : pingsan. Mungkin
ia sudah bersikap bodoh dengan menolak Sebastien mentraktirnya pada saat makan
siang tadi. Ia meraih tas ranselnya dan melihat kotak plastik—seperti kotak
bekal— di sudut sisi lokernya. Ia mengambil kotak plastik itu dan membaca memo
di atasnya.
Aku tahu kau lapar,
Xara. Jangan menyangkal itu. Kuharap kau tidak ada masalah dengan seafood.
Sebastien ‘Imnotpeter’
Sebastien ? Dia yang melakukan semua ini ?
Xara tersenyum tanpa alasan dan segera melahap habis makanan
yang dirasakannya sebagai Bouillabaisse itu. Sejenak, ia merasa jantungnya
berdetak lebih cepat dari biasanya. Dan memori akan ucapan Sebastien setelah ia
meminta maaf pada saat itu terulang …
‘Kurasa aku tertarik
padamu’
Callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com
Callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com
To be continued…
Thanks for reading :)
Comment please :D means alot for me C:
Thanks for reading :)
Comment please :D means alot for me C: