PROLOG
Gadis itu membencinya. Itulah
anggapan pertama Sebastien ketika melihat Xara. Bibirnya selalu mengatup saat
mereka berbicara. Tidak pernah tersenyum walaupun Sebastien sedang
menceritakan lelucon padanya. Xara juga selalu menatap tajam ke arahnya,
membuat Sebastien selalu berpikir 5 kali akan apa yang sedang ia perbuat.
Callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com
Pagi itu pagi yang indah bagi
Xara. Cuaca mendung dan berangin menyejukkan hatinya. Ia melangkah masuk dan
tersenyum lebar, “Bonjour” sapanya kepada Elizabeth. Elizabeth menoleh dan
tersenyum, “Hai, kau mau ?” tanyanya sambil menyodorkan sebungkus plastik potato chips. “Tidak, tidak. Bukannya
kau tahu kalau aku sedang diet ? Ah, ngomong ngomong, dia sudah datang ?” Tanya
Xara hati hati. Elizabeth memutar kepalanya, “Tuh,” Xara melongokkan kepalanya
untuk melihat apa yang dilihat Elizabeth. Ia menyadari sosok itu. Sebastien
sedang sibuk mengaduk-aduk baskom berisi cairan kental sambil sesekali melihat
tulisan di sebelahnya. “Dia sedang belajar resep baru.” Jelas Eliz tanpa
ditanya. Xara hanya mangut-mangut
mendengar penjelasan Eliz. Sejenak perasaan bahagia yang dirasakannya
beberapa menit yang lalu lenyap. Xara tidak ingin bertemu dengan dia. Xara
tidak ingin bertemu dengan Sebastien. Terlambat. Sebastien sudah menyadari
keberadaannya. Ia tersenyum kepada Xara—entah terpaksa atau tidak—“Xara, kau
sudah datang ?” Xara menarik nafas dalam dalam, “Kalau aku belum datang, lalu
yang kau lihat ini siapa ?” balas Xara tanpa ada unsur candaan sama sekali di
setiap kata-katanya. Sebastien tertawa, “Iya, iya, aku minta maaf sudah
menanyakan pertanyaan semacam itu” Xara mengabaikan jawaban Sebastien. Ia
berjalan menuju locker room dan
meletakkan tas punggungnya di sana. Begitu ia kembali, ia melihat wanita dan
pria duduk di meja dan melihat-lihat menu
di atas meja mereka. Dengan setengah berlari ia menghampiri pasangan muda
tersebut. Mendengarkan, mencatat, dan mengulang makanan yang mereka pesan.
Callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com
Sebastien mengangkat kedua
sudut bibirnya, melihat gadis itu berlari tergopoh-gopoh menghampiri
pengunjung. Ia kira hari ini mood Xara sedang bagus, tapi rupanya ia
salah. Kalau mood Xara sedang bagus,
seharusnya gadis—paling tidak— tersenyum padanya. Atau membalas ucapannya.
“Pesanan” Xara menggantungkan
sebuah kertas kecil dengan penjepit di depan Sebastien. “Oh,” Sebastien membaca
tulisan di depannya. 2 Rosella tea dan
croissant. Ia melipat lengan bajunya, meletakkan tray berisi adonan di oven, dan menunggu sampai bunyi ting terdengar.
Callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com
“Kau belum pulang ? Bukannya setelah ini ada
penggantian shift ?” Tanya Sebastien
kepada perempuan didepannya. Xara menatap Sebastien sekilas dan kembali
melanjutkan mengobrak-abrik tasnya.
“Dompetku hilang” gumamnya tanpa menoleh Sebastien. Sebastien menatap
perempuan itu lekat-lekat, “Mau kubantu ?” Xara sejenak berhenti dari aktivitas
mengobrak-abriknya, “Terserah kau.” Ia menatap tangan Sebastien dan menunjuk
kearah kotak plastik yang dipegangya, “Apa itu ?” Sebastien meletakkan mangkuk
plastik itu di bangku sebelahnya, “Bouillabasse,
kau mau ?” Tanya Sebastien menawarkan. Mendengar Xara tidak menjawab
pertanyaannya, ia meneruskan mencari dompet Xara. Xara terdiam memandangnya untuk beberapa
saat, baru kemudian berjongkok dan menyingkirkan segala sesuatu yang ada di
hadapannya. Sebastien menelusuri jalan yang tadi dilewatinya. Menyapu setiap
sudut ruangan. Pandangannya terhenti begitu melihat benda cokelat bergaris
garis hitam dan merah tergeletak di depannya. Ia membuka dompet itu untuk
memastikan dompet itu milik Xara. Matanya terbelalak melihat foto yang terpampang disana. Dua sosok yang
ia yakini sebagai Xara dan—mungkin—pacarnya tersenyum lebar menghadap kamera.
Lelaki itu merangkul pundak Xara, dan seumur hidup Sebastien bekerja di L’ambrosie ia tidak pernah melihat Xara
sebahagia itu. Bahkan ketika ia sedang bersama Eliz. “Kau sudah menemukannya ?
Dompetku ?” Mendengar suara Xara dibelakangnya, spontan Sebastien berbalik dan
menjatuhkan dompet yang ia pegang. Xara menatap Sebastien curiga, ia maju
selangkah dan mengambil dompetnya, membuka isinya, dan bertanya dengan nada
menyelidik, “Kau melihat isinya?” Sebastien menelan ludah. Ia benar-benar
bingung akan apa yang harus ia katakana saat itu. Dan akhirnya, “Maafkan aku,”
Ia mendongak menatap Xara, “Awalnya aku hanya ingin memeriksa apakah itu
dompetmu atau bukan.. dan aku tidak sengaja melihat fotomu disana.” Sunyi
merayapi mereka berdua. Sebastien merasa sudah menjelaskan semuanya, dan ia
melakukan hal yang benar. Ia sudah siap apabila Xara Eloise akan marah padanya,
membanting meja, atau bahkan menghabisinya ditempat.
Namun
kenyataan berkata sebaliknya, Xara hanya diam dan menatap Sebastien sampai
seorang pekerja shift malam datang
dan mengambil alih tugasnya.
Callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com
Mungkin
kenyataan tidak sepenuhnya berbeda, hari ini Xara menjadi lebih pendiam kepada
siapa saja. Si-a-pa-sa-ja. Kepada
Eliz, kepada Mabel, dan—tentu saja—kepadanya. Mungkin Sebastien telah melanggar
privasi gadis itu kemarin. Ia tidak seharusnya membuka dan melihat isi foto
dompet itu. Sebastien mengutuki dirinya sendiri.
Baiklah,
sepulang kerja nanti, ia akan meminta maaf kepada Xara tentang hal kemarin,
Sebastien bertekad dalam hati. Ia melirik Xara yang sedang ‘bercanda tawa’
dengan Eliz walaupun disana terlihat sekali bahwa Xara tidak sedang tertawa.
Callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com
Xara
meraih tas punggungnya, dan menutup pintu loker. Ia baru akan melangkah ketika
menyadari Sebastien sedang berdiri di hadapannya. “Xara,”bisiknya pelan, “Aku
benar benar meminta maaf karena sudah melanggar privasimu—jika itu yang kau
pikirkan.” Xara bisa melihat Sebastien adalah perayu yang handal, karena
seketika waktu itu juga, Xara luluh karena ucapannya. “Kau tidak perlu meminta
maaf. Bukan salahmu.” Xara menggeser bahu Sebastien dan pergi meninggalkannya
begitu saja.
“Sebenarnya
apa salahku ?” Sebastien berbalik, menyambar tangan Xara dan menahannya.
“Kau
tidak salah apa- apa.”
“Lalu
kenapa kau bersikap sinis padaku ?”
“Aku tidak
sinis padamu.”
“Jelas
kau sinis padaku, hanya orang buta yang tidak bisa melihatnya.” Ucap Sebastien
geram. Ia sudah mencoba bersikap ramah terhadap gadis itu namun rasanya sikap
ramahnya itu tidak berarti apa apa bagi Xara.
Dan, Oh
ya, kesabaran ada batasnya.
“Kau
hanya mirip dengan Peter. Bahkan terkadang aku merasa aku sedang bersamanya
ketika menatapmu.”
Peter ? Siapa itu ?
Seakan
bisa membaca pikiran Sebastien, “Dia pacarku. Tapi kami sudah putus beberapa
bulan yang lalu.” Xara menegaskan
“Kenapa
… kau putus ?” Sebastien meragukan pertanyaan ini, ia takut kalau gadis itu
akan memusuhinya lagi, menatapnya sinis lagi…
Ternyata
tidak.
“Dia
mengkhianatiku.” Xara menarik nafas panjang. Aku harus memberitahunya, harus.
“Selingkuh
?”
“Bukan,
ehm, lebih seperti… memfitnah.” Xara membasahi bibirnya yang kering, “Dulu dia
koki disini, sama sepertimu. Dan entah mengapa, setiap aku melihatmu, aku
melihatnya. Mungkin karena kau terlalu mirip dengannya. Konyol memang, tapi
yah, begitulah.”
Sebastien
menghembuskan nafas lega. Ternyata.. Selama ini Xara selalu melihatnya sebagai
Peter, bukan sebagai Sebastien. Dan itu berarti Xara membenci Peter. Bukan
Sebastien.
“Dengar
Xara,” Sebastien menggenggam erat bahu Xara, “Aku memang tidak tahu pasti
tentang hubunganmu dengan Peter tapi yang jelas, Aku bukan Peter” Sebastien menekankan tiga
kata terakhir yang ia ucapkan.
Xara
bisa merasakan matanya berair. Ia merasa begitu bodoh karena sudah menyamakan
dua pribadi yang jelas jelas berbeda.
Xara bisa melihat dirinya sendiri di pantulan mata Sebastien. Terlihat sangat berantakan.
Berantakan dan tolol.
“Aku
bukan Peter. Aku tidak akan mengkhianatimu.”
Air
mata Xara jatuh saat Sebastien mengucapkan kalimat itu. Ia tahu ia salah,
“Maaf, aku…”Xara menghapus air matanya dan memaksa suara keluar dari
tenggorokannya, “Aku minta maaf atas sikapku yang bodoh selama ini. Aku egois
karena sudah…”
“Kau
tidak salah apa apa. Mungkin kau hanya… trauma.” sahut Sebastien memotong
kalimat Xara barusan. Ia melingkarkan tangannya di bahu Xara. “Dan jangan salahkan
aku, Xara. Kurasa aku mulai tertarik padamu.”
To be continued.. :)
Comment please :)
Thanks :D Hope U like it
Sorry kalo ada typo :(
Sorry kalo ada typo :(
Très bon, jeune fille! :D
BalasHapus..................kamu gak ngarapin komenku y =.= sesaat tadi...................keci! >3<
Btw,boouilabasse tuh ap??? o.O
ak cari di Google kok malah keluar makanan berkuah yang isinya ikan, emang itu y? o..o
btw, ak suka lho >w< KEREN!!!! OWO
I'm waiting for the next, sister! >v<
Adieu! ;D
41p0ms : merci beaucoup! :D
Hapusga ngarapin apa ? o.o
sup .. nti liak ae nde crita e :D
Merciii merciii :D
Au revoir !
bounjour! gantung nih:D tapi tetep bagus koo:') aku penasaran jadinya. ehiya makasih yaa udah comment di blog aku http://teenactive-salsabila.blogspot.com fllwbck blog aku yaaaa=)) bls comment aku juga ya.
BalasHapushehe masamaa .. okok (y)
Hapuspart 2nya http://callmemilii.blogspot.com/2012/04/bouillabaisse-part-2.html
thanks ya udah mampirr :D
bagus banget... tapi ini udah part yang keberapa? yg pertama mana? lanjutin ya! semangat :D
BalasHapusini yang pertama .. jd dimulainya dari tengah gituu hehe
Hapusthankss :D
part ke2nya : http://callmemilii.blogspot.com/2012/04/bouillabaisse-part-2.html
makasih udah mampirr :D
sama2.... oya, masukan ya. waktu baca cerita ini aku suka banget, serasa baca novel terjemahan. tapi aku sulit membayangkan rupa tokohnya. jadi mungkin bisa ditambahkan karakter fisiknya tokohnya gimana. hehe
HapusOkok (y) di part 3 yaaa
Hapus