Minggu, 15 April 2012

Bouillabaisse :)

PROLOG
Gadis itu membencinya. Itulah anggapan pertama Sebastien ketika melihat Xara. Bibirnya selalu mengatup saat mereka berbicara. Tidak pernah tersenyum walaupun Sebastien sedang menceritakan lelucon padanya. Xara juga selalu menatap tajam ke arahnya, membuat Sebastien selalu berpikir 5 kali akan apa yang sedang ia perbuat.


Callmemilii.blog.com  callmemilii.blog.com  callmemilii.blog.com






Pagi itu pagi yang indah bagi Xara. Cuaca mendung dan berangin menyejukkan hatinya. Ia melangkah masuk dan tersenyum lebar, “Bonjour” sapanya kepada Elizabeth. Elizabeth menoleh dan tersenyum, “Hai, kau mau ?” tanyanya sambil menyodorkan sebungkus plastik potato chips. “Tidak, tidak. Bukannya kau tahu kalau aku sedang diet ? Ah, ngomong ngomong, dia sudah datang ?” Tanya Xara hati hati. Elizabeth memutar kepalanya, “Tuh,” Xara melongokkan kepalanya untuk melihat apa yang dilihat Elizabeth. Ia menyadari sosok itu. Sebastien sedang sibuk mengaduk-aduk baskom berisi cairan kental sambil sesekali melihat tulisan di sebelahnya. “Dia sedang belajar resep baru.” Jelas Eliz tanpa ditanya. Xara hanya mangut-mangut  mendengar penjelasan Eliz. Sejenak perasaan bahagia yang dirasakannya beberapa menit yang lalu lenyap. Xara tidak ingin bertemu dengan dia. Xara tidak ingin bertemu dengan Sebastien. Terlambat. Sebastien sudah menyadari keberadaannya. Ia tersenyum kepada Xara—entah terpaksa atau tidak—“Xara, kau sudah datang ?” Xara menarik nafas dalam dalam, “Kalau aku belum datang, lalu yang kau lihat ini siapa ?” balas Xara tanpa ada unsur candaan sama sekali di setiap kata-katanya. Sebastien tertawa, “Iya, iya, aku minta maaf sudah menanyakan pertanyaan semacam itu” Xara mengabaikan jawaban Sebastien. Ia berjalan menuju locker room dan meletakkan tas punggungnya di sana. Begitu ia kembali, ia melihat wanita dan pria duduk di meja dan melihat-lihat menu di atas meja mereka. Dengan setengah berlari ia menghampiri pasangan muda tersebut. Mendengarkan, mencatat, dan mengulang makanan yang mereka pesan.





Callmemilii.blog.com  callmemilii.blog.com  callmemilii.blog.com









Sebastien mengangkat kedua sudut bibirnya, melihat gadis itu berlari tergopoh-gopoh menghampiri pengunjung. Ia kira hari ini mood Xara sedang bagus, tapi rupanya ia salah.  Kalau mood Xara sedang bagus, seharusnya gadis—paling tidak— tersenyum padanya. Atau membalas ucapannya.
“Pesanan” Xara menggantungkan sebuah kertas kecil dengan penjepit di depan Sebastien. “Oh,” Sebastien membaca tulisan di depannya. 2 Rosella tea dan croissant. Ia melipat lengan bajunya, meletakkan tray berisi adonan di oven, dan menunggu sampai bunyi ting terdengar.



Callmemilii.blog.com  callmemilii.blog.com  callmemilii.blog.com









 “Kau belum pulang ? Bukannya setelah ini ada penggantian shift ?” Tanya Sebastien kepada perempuan didepannya. Xara menatap Sebastien sekilas dan kembali melanjutkan mengobrak-abrik tasnya.  “Dompetku hilang” gumamnya tanpa menoleh Sebastien. Sebastien menatap perempuan itu lekat-lekat, “Mau kubantu ?” Xara sejenak berhenti dari aktivitas mengobrak-abriknya, “Terserah kau.” Ia menatap tangan Sebastien dan menunjuk kearah kotak plastik yang dipegangya, “Apa itu ?” Sebastien meletakkan mangkuk plastik itu di bangku sebelahnya, “Bouillabasse, kau mau ?” Tanya Sebastien menawarkan. Mendengar Xara tidak menjawab pertanyaannya, ia meneruskan mencari dompet Xara.  Xara terdiam memandangnya untuk beberapa saat, baru kemudian berjongkok dan menyingkirkan segala sesuatu yang ada di hadapannya. Sebastien menelusuri jalan yang tadi dilewatinya. Menyapu setiap sudut ruangan. Pandangannya terhenti begitu melihat benda cokelat bergaris garis hitam dan merah tergeletak di depannya. Ia membuka dompet itu untuk memastikan dompet itu milik Xara. Matanya terbelalak melihat  foto yang terpampang disana. Dua sosok yang ia yakini sebagai Xara dan—mungkin—pacarnya tersenyum lebar menghadap kamera. Lelaki itu merangkul pundak Xara, dan seumur hidup Sebastien bekerja di L’ambrosie ia tidak pernah melihat Xara sebahagia itu. Bahkan ketika ia sedang bersama Eliz. “Kau sudah menemukannya ? Dompetku ?” Mendengar suara Xara dibelakangnya, spontan Sebastien berbalik dan menjatuhkan dompet yang ia pegang. Xara menatap Sebastien curiga, ia maju selangkah dan mengambil dompetnya, membuka isinya, dan bertanya dengan nada menyelidik, “Kau melihat isinya?” Sebastien menelan ludah. Ia benar-benar bingung akan apa yang harus ia katakana saat itu. Dan akhirnya, “Maafkan aku,” Ia mendongak menatap Xara, “Awalnya aku hanya ingin memeriksa apakah itu dompetmu atau bukan.. dan aku tidak sengaja melihat fotomu disana.” Sunyi merayapi mereka berdua. Sebastien merasa sudah menjelaskan semuanya, dan ia melakukan hal yang benar. Ia sudah siap apabila Xara Eloise akan marah padanya, membanting meja, atau bahkan menghabisinya ditempat.
Namun kenyataan berkata sebaliknya, Xara hanya diam dan menatap Sebastien sampai seorang pekerja shift malam datang dan mengambil alih tugasnya.




Callmemilii.blog.com  callmemilii.blog.com  callmemilii.blog.com







Mungkin kenyataan tidak sepenuhnya berbeda, hari ini Xara menjadi lebih pendiam kepada siapa saja. Si-a-pa-sa-ja. Kepada Eliz, kepada Mabel, dan—tentu saja—kepadanya. Mungkin Sebastien telah melanggar privasi gadis itu kemarin. Ia tidak seharusnya membuka dan melihat isi foto dompet itu. Sebastien mengutuki dirinya sendiri.
Baiklah, sepulang kerja nanti, ia akan meminta maaf kepada Xara tentang hal kemarin, Sebastien bertekad dalam hati. Ia melirik Xara yang sedang ‘bercanda tawa’ dengan Eliz walaupun disana terlihat sekali bahwa Xara tidak sedang tertawa.



Callmemilii.blog.com  callmemilii.blog.com  callmemilii.blog.com







Xara meraih tas punggungnya, dan menutup pintu loker. Ia baru akan melangkah ketika menyadari Sebastien sedang berdiri di hadapannya. “Xara,”bisiknya pelan, “Aku benar benar meminta maaf karena sudah melanggar privasimu—jika itu yang kau pikirkan.” Xara bisa melihat Sebastien adalah perayu yang handal, karena seketika waktu itu juga, Xara luluh karena ucapannya. “Kau tidak perlu meminta maaf. Bukan salahmu.” Xara menggeser bahu Sebastien dan pergi meninggalkannya begitu saja.
“Sebenarnya apa salahku ?” Sebastien berbalik, menyambar tangan Xara dan menahannya.
“Kau tidak salah apa- apa.”
“Lalu kenapa kau bersikap sinis padaku ?”
“Aku tidak sinis padamu.”
“Jelas kau sinis padaku, hanya orang buta yang tidak bisa melihatnya.” Ucap Sebastien geram. Ia sudah mencoba bersikap ramah terhadap gadis itu namun rasanya sikap ramahnya itu tidak berarti apa apa bagi Xara.
Dan, Oh ya, kesabaran ada batasnya.
“Kau hanya mirip dengan Peter. Bahkan terkadang aku merasa aku sedang bersamanya ketika menatapmu.”
Peter ? Siapa itu ?
Seakan bisa membaca pikiran Sebastien, “Dia pacarku. Tapi kami sudah putus beberapa bulan yang lalu.” Xara menegaskan
“Kenapa … kau putus ?” Sebastien meragukan pertanyaan ini, ia takut kalau gadis itu akan memusuhinya lagi, menatapnya sinis lagi…
Ternyata tidak.
“Dia mengkhianatiku.” Xara menarik nafas panjang. Aku harus memberitahunya, harus.
“Selingkuh ?”
“Bukan, ehm, lebih seperti… memfitnah.” Xara membasahi bibirnya yang kering, “Dulu dia koki disini, sama sepertimu. Dan entah mengapa, setiap aku melihatmu, aku melihatnya. Mungkin karena kau terlalu mirip dengannya. Konyol memang, tapi yah, begitulah.”
Sebastien menghembuskan nafas lega. Ternyata.. Selama ini Xara selalu melihatnya sebagai Peter, bukan sebagai Sebastien. Dan itu berarti Xara membenci Peter. Bukan Sebastien.
“Dengar Xara,” Sebastien menggenggam erat bahu Xara, “Aku memang tidak tahu pasti tentang hubunganmu dengan Peter tapi yang jelas,  Aku bukan Peter” Sebastien menekankan tiga kata terakhir yang ia ucapkan.
Xara bisa merasakan matanya berair. Ia merasa begitu bodoh karena sudah menyamakan dua pribadi yang jelas jelas  berbeda. Xara bisa melihat dirinya sendiri di pantulan mata Sebastien. Terlihat sangat berantakan. Berantakan dan tolol.
“Aku bukan Peter. Aku tidak akan mengkhianatimu.”
Air mata Xara jatuh saat Sebastien mengucapkan kalimat itu. Ia tahu ia salah, “Maaf, aku…”Xara menghapus air matanya dan memaksa suara keluar dari tenggorokannya, “Aku minta maaf atas sikapku yang bodoh selama ini. Aku egois karena sudah…”
“Kau tidak salah apa apa. Mungkin kau hanya… trauma.” sahut Sebastien memotong kalimat Xara barusan. Ia melingkarkan tangannya di bahu Xara. “Dan jangan salahkan aku, Xara. Kurasa aku mulai tertarik padamu.”



 To be continued.. :)


Comment please :)
 Thanks :D Hope U like it 
Sorry kalo ada typo :(

8 komentar:

  1. Très bon, jeune fille! :D
    ..................kamu gak ngarapin komenku y =.= sesaat tadi...................keci! >3<
    Btw,boouilabasse tuh ap??? o.O
    ak cari di Google kok malah keluar makanan berkuah yang isinya ikan, emang itu y? o..o
    btw, ak suka lho >w< KEREN!!!! OWO
    I'm waiting for the next, sister! >v<
    Adieu! ;D

    BalasHapus
    Balasan
    1. 41p0ms : merci beaucoup! :D
      ga ngarapin apa ? o.o
      sup .. nti liak ae nde crita e :D
      Merciii merciii :D
      Au revoir !

      Hapus
  2. bounjour! gantung nih:D tapi tetep bagus koo:') aku penasaran jadinya. ehiya makasih yaa udah comment di blog aku http://teenactive-salsabila.blogspot.com fllwbck blog aku yaaaa=)) bls comment aku juga ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe masamaa .. okok (y)
      part 2nya http://callmemilii.blogspot.com/2012/04/bouillabaisse-part-2.html
      thanks ya udah mampirr :D

      Hapus
  3. bagus banget... tapi ini udah part yang keberapa? yg pertama mana? lanjutin ya! semangat :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini yang pertama .. jd dimulainya dari tengah gituu hehe
      thankss :D
      part ke2nya : http://callmemilii.blogspot.com/2012/04/bouillabaisse-part-2.html
      makasih udah mampirr :D

      Hapus
    2. sama2.... oya, masukan ya. waktu baca cerita ini aku suka banget, serasa baca novel terjemahan. tapi aku sulit membayangkan rupa tokohnya. jadi mungkin bisa ditambahkan karakter fisiknya tokohnya gimana. hehe

      Hapus