Minggu, 01 Juli 2012

Bouillabaisse part 3 :)

Xara menelusuri jalan pulang dengan kaki dientak – entakan. Perasaannya tak menentu. Ia mulai berpikir hal – hal yang tidak biasa. Oh my God… Xara melirik kotak bekal bekas Bouillabaisse tadi yang dibawanya pulang. Jantungnya berdebar kencang saat ini dan ada perasaan gelisah disana. Ia menggigit bibirnya, dan sesekali memukul – mukul pipinya dengan satu tangan. “Bodoh, sadarlah.” Gumamnya.

Ia baru hendak memukuli wajahnya lagi, ketika melihat seberkas sinar datang dari lampu dim mobil Lexus hitam tipe RX di seberang jalan. Ia menyipitkan matanya sesaat, dan melihat sekelebat pria keluar dari mobil itu. Ia menyipitkan matanya lagi, menimbang – nimbang siapa pria itu. Sejujurnya, dari yang ia lihat sepintas tadi, ia seperti mengenal laki – laki itu. Ia menuruti nalurinya,  kakinya melangkah mengendap – endap mengikuti pria itu.  Pria itu terhenti di suatu lapangan parkir luas didepan sebuah pabrik yang sudah tak terpakai. Xara berada di kejauhan mengamati lelaki itu berbincang – bincang dengan seorang wanita. Ia bersembunyi dibalik tumpukan kardus bekas yang jaraknya kira – kira 10 meter dari kedua orang itu. Dan seperti yang ia kira, ia tidak mendengar apa – apa dengan jarak 10 meter. Tetapi ia juga tidak bisa mendekat. Selain tumpukan kardus itu, tidak ada tempat yang bisa menyembunyikan dirinya. Hanya ada tanah lapang didepannya.

“Siaal,” umpatnya sambil harap-harap-cemas kedua atau setidaknya salah satu dari orang itu berbicara lebih keras lagi. Ia benar – benar tidak bisa mendengar apa – apa. 

Oh, tidak, Xara tidak akan pulang dengan tangan kosong. “Kalau aku tidak bisa mendengar, setidaknya aku bisa melihat.”batin Xara. Ia menunggu saat yang tepat, sebelum akhirnya mulai melongokkan kepalanya perlahan – lahan. Tangannya berpegangan erat pada sisi ujung kardus, dan ia mulai menyembulkan kepalanya sedikit demi sedikit. Sosok pertama yang ia lihat adalah seorang perempuan. Badannya kurus, tinggi, dan sebagian wajahnya ditutupi oleh syal dan kacamata hitam. Sedangkan yang lelaki … Hmm … Xara tidak tahu. Lelaki itu membelakanginya sehingga yang ia bisa lihat hanya punggung dan tingginya saja. Bahkan rambutnya ditutupi oleh topi wol. Setelah mengamati begitu lama, Xara menyadari kalau tadi perkiraannya tidak salah. Postur tubuh lelaki ini mirip dengan Sebastien. Bahkan bisa dibilang sama. Sebastien memiliki bahu yang lebar dan tinggi kira – kira 6 kaki, yang ia bisa lihat dari lelaki berjaket itu. Kalau memang benar dia Sebastien, apa yang dia lakukan malam – malam begini di tempat seperti ini ? Xara mencoba menebak – nebak akan apa yang biasa dilakukan seorang lelaki pukul setengah sepuluh malam didepan pabrik kosong. Tetapi tidak ada jawaban positif yang dapat menghilangkan dugaan kuatnya tentang transaksi gelap—dan yang paling disangkalnya—mafia. Xara menertawakan dirinya sendiri. Tidak mungkin kan Sebastien berkomplot dengan mafia ? Dan lagi belum tentu juga laki – laki itu adalah Sebastien … Oh, oh ! Perempuan itu membuka kacamata hitamnya. Xara memiringkan kepalanya sedikit untuk bisa melihat lebih jelas. Perempuan itu menangis. Matanya biru, rambutnya ikal berwarna oranye cerah—yang bisa ia lihat dari poninya, hidungnya mancung dan kulitnya pucat. Terlintas sebuah nama ketika Xara memikirkan semua kombinasi itu.

Eliz. 

Tetapi bedanya, Eliz mempunyai mata Hazel, dan ia cukup yakin sahabatnya itu tidak memakai contact lens. Xara menghela nafas panjang. Berbagai dugaan berputar – putar dalam otaknya. Semuanya menjadi rumit sekarang. Ia melongokkan kepalanya lagi menatap kedua manusia itu. Mereka seperti membicarakan sesuatu. Atau lebih tepatnya mendebatkan  sesuatu. Sampai suatu ketika, perempuan itu melingkarkan tangannya ke pundak lelaki itu. Kalau lelaki itu memang Sebastien… Kalau benar dia Sebastien… Xara terlonjak dari kegiatan mata – matanya dan bersembunyi di balik kardus – kardus bewarna coklat. Nafasnya sesak memikirkan kilas balik kejadian tadi. Ia tidak berani berharap ….

 
Callmemilii.blog.com    callmemilii.blog.com    callmemilii.blog.com


Burung – burung mengerubunginya dan mematuk kepalanya sesekali di sela – sela kicauannya. Namun gadis itu bergeming. Ia tetap menyeret kakinya putus asa, bergesekan dengan aspal jalan. Tubuhnya gontai seakan tidak ada tulang yang menyangga badannya. Sebastien mengamati gadis itu lekat – lekat. Terdapat kantung hitam di sekitar matanya. Apa dia tidak tidur ? Sebastien teringat akan pertandingan sepakbola kemarin malam. Tidak, tidak. Xara sepertinya bukan tipe wanita yang menggemari sepakbola atau semacamnya. Sebastien membenarkan letak topinya dan kembali mengekor dibelakang gadis itu. Ia mengendap – endap, beralih dari tiang lampu satu ke tiang lampu lainnya. Ia tidak memerdulikan orang – orang disekitarnya yang mulai menatapnya aneh dan sebagian lagi menatapnya seakan – akan ia orang gila. Sorot matanya berubah ketika ia melihat Xara akan menyeberang. Gadis itu menatap lurus ke depan tanpa menunjukkan tanda – tanda akan menoleh barang sedikitpun. Hal itu tentu saja bukan menjadi masalah bagi Sebastien kalau saja….  

Mobil sedan itu tidak sedang melaju kencang ke arahnya.

Matanya membelalak melihat rentetan kejadian itu. Bagaimana mobil itu menabraknya, bagaimana gadis itu terjatuh dan kepalanya membentur tanah, bagaimana orang – orang disekitarnya sontak berteriak dan mengerubutinya…
Semua terjadi begitu jelas di depan Sebastien. Terlalu jelas mungkin. Ia mematung sesaat sebelum seluruh sarafnya menghentak otaknya untuk berbuat sesuatu.

“Xara!!” Sebastien berlari sekuat tenaga menghampiri gadis itu. Jantungnya berdetak tak keruan bahkan sebelum ia melangkah. Ia membelah kerumunan orang yang menjawab sebagian keraguannya tentang ‘apa dia baik – baik saja’.
Sebastien menatap nanar sosok wanita bersyal hitam yang tergeletak di aspal jalan. Darah mengucur dari hidung dan mulutnya.

Tidak mungkin.

 
Callmemilii.blog.com    callmemilii.blog.com    callmemilii.blog.com


Xara membuka matanya pelan – pelan. Hal pertama yang dilihatnya adalah kepala teman – temannya yang mengelilinginya, membentuk sebuah lingkaran dengan . “Kau tidak apa – apa, Xara ?”Tanya Rosalie, mewakili pertanyaan semua orang. Xara menarik pantatnya, dan terduduk di kursi. Sambil menggosok – gosok matanya—seakan ia baru bangun tidur—ia bergumam, “Kurasa begitu.” 

Seketika semua orang yang ada di ruangan itu menghela nafas lega. “Tapi, disini.” Xara memegang bagian kanan atas perutnya, “Seperti barusan ada yang memukuliku.” Xara meringgis kaku. “Kau sudah tidur selama 3 hari, kau tahu ? Lebih baik kau ceritakan pada kami bagaimana kau bisa menjadi seperti ini.” Emile—salah satu teman Xara yang diketahuinya paling tidak sabaran—menatap selang infus yang melekat di tempurung tangannya. Xara memiringkan kepalanya menghadap sahabatnya itu, “Tahan kicauanmu Emile. Kau mulai membuat kami takut.”katanya. “Aku juga tidak begitu tahu bagaimana ini bisa terjadi. Saat itu aku sedang menyeberang jalan, dan hal terakhir yang kulihat adalah tampak depan mobil sedan, dan bumi seolah berputar. Setelah itu aku tidak ingat apa – apa lagi.” Jelas Xara. 

“Bumi memang berputar, bodoh.” Sahut Pierre, mantan adik kelasnya dahulu yang sekarang sudah menjadi chef di tempatnya bekerja. “Hei, kau, bocah ingusan! Seperti itu caramu bicara kepada seniormu yang baru mengalami kecelakaan ?” Xara meninggikan suaranya beberapa oktaf. Ia selalu merindukan saat – saat ini. Saat dimana dia bisa melupakan semua masalah yang ada, bercanda tawa dengan teman – temannya ,dan menjadi dirinya sendiri. Sesaat Xara bisa melupakan orang itu. Lelaki yang merenggut sebagian besar alasannya untuk tertawa. “Hé ! Kau bukan kakak kelas ataupun seniorku lagi, bodoh. Kedudukan kita sama sekarang. Tunggu, tunggu … mungkin aku lebih tinggi darimu. Bagaimanapun juga aku adalah seorang chef dan kau adalah seorang waitress, ya’kan ?  Goda Pierre sambil menyunggingkan senyum kebanggaannya. Xara mendengus mendengar kalimat terakhir Pierre. Anak itu selalu saja menganggap pekerjaan pelayan lebih rendah daripada koki. Ia baru akan membuka mulut ketika Mabel dan yang lainnya menatapnya penuh arti. “Apa ?” Ia menatap temannya satu persatu, “Kenapa kalian menatapku seperti itu ?” Tanya Xara. “Kalau lidah tajam Pierre bisa membuatmu kembali seperti ini, semestinya dari dulu aku tidak melaranginya berbicara denganmu. Yah, kau tahu sendiri, Pierre tidak pernah mengucapkan sesuatu yang lembut.” Sahut Cecile. Xara tidak tahu ia harus menjawab apa, jadi ia hanya mengangguk – angguk tanda mengerti.

Tiba – tiba ia teringat seseorang. Ia mengamati satu persatu teman – temannya yang ada di situ. Tidak ada. Orang itu tidak ada. Anne yang menyadari gerak geriknya, bertanya padanya. Namun sepertinya ia salah mengartikan subyek yang dicari Xara,“Kau mencari Eliz ? Kurasa dia akan datang sebentar lagi. Dia bilang dia akan menyusul kami kalau shiftnya sudah selesai.” Xara manggut – manggut mendengar penjelasan Anne. “Sebastien,” Xara menggerak – gerakkan tangannya salah tingkah, “Dia kemari ?” 

Anne tidak dapat menahan senyum melihat tingkah laku Xara saat menanyakan pria itu, “Ooh, jadi bukan Eliz.” Xara mendelik padanya. “Tadi dia bilang padaku dia mau mengurus ke kantor polisi soal pengemudi yang menabrakmu. Aku tidak tahu kapan dia akan datang.” Ucap Anne sambil menahan senyum.

Tepat setelah itu, pintu kamar Xara terbuka cepat. Xara dan teman – temannya spontan menoleh ke arah pintu yang terbuka, menampilkan sosok lelaki berjaket abu – abu, “Whoa, kau sudah sadar ?” 

Xara mengangguk cepat, “Ya, begitulah.”Ia memutar otaknya untuk menanyakan sesuatu, “Bagaimana urusanmu di kantor polisi ? Kau berhasil menangkap pelakunya ?” Tanya Xara. “Kau harus berterimakasih padanya, bodoh. Dia yang sudah menggendongmu kemari.” Tegur Pierre, membuat mata Xara melebar. Xara menatap Sebastien yang tampak terkejut, tidak tahu harus menjawab apa. “Kalau kau menganggap sikapku tidak sopan, aku minta maaf.” Xara buru – buru menggeleng, “Sama sekali tidak. Justru aku yang harusnya minta maaf karena sudah merepotkanmu… Dan, terimakasih sudah me-menggen..membawaku kemari.” Ucapnya terbata – bata. Dalam hati, ia mensyukuri progam diet yang dilakukannya beberapa bulan terakhir. Setidaknya, ia tidak terlalu berat saat Sebastien ‘membawa’nya kesini. Suasana dalam ruangan itu mendadak kaku. Xara tidak tahu apa yang harus ia katakan setelah kejadian itu,dan begitu pula Sebastien. 

“Dingin sekali disini.”Sindir Michelle. 

“Dingin darima..” “Ayo, kita keluar.” Michelle menyela kalimat Emile dan menyambar tangan sahabat – sahabatnya dan menarik mereka keluar. Ia terhenti sebentar di perbatasan pintu, mengedipkan sebelah mata hijau yang selalu dikagumi Xara. Xara membelalak melihat kedipan sahabatnya itu, kemudian menoleh kearah Sebastien, memastikan lelaki itu tidak melihat kerjapan penuh makna tadi. Sebastien sendiri tampak sibuk dengan iPhonenya yang berdering 3 detik yang lalu. Xara memperhatikan raut wajah Sebastien lama. Lelaki itu memiliki sepasang mata almond, dengan alis tebal yang berjarak 1 senti dari matanya. Hidungnya mancung dan ujung hidungnya tinggi. Ia memiliki hampir semua ciri pria idaman Xara. Sayangnya, Sebastien tidak memiliki jenggot. Xara selalu mengidam – idamkan lelaki berjenggot tiga hari yang menurutnya sangat maskulin.

“Maaf,” Ucap Sebastien sambil memasukan ponselnya ke saku. Xara tersadar dari lamunannya dan buru – buru mengalihkan pandangan saat matanya bertemu dengan mata Sebastien, “Tidak apa – apa.” Jawabnya singkat. “Umm ..” Sebastien mengintip bagian bawah ranjang rumah sakit Xara, “Kau sudah makan ?” Xara menggelengkan kepalanya, “Mungkin sebentar lagi petugas rumah sakit akan mengantar makananku.” Ia melirik jam dinding di atas pintu. 11.54. “Biasanya perawat mengantar makananku jam 12 siang” jelasnya.

“Percayalah, kau tidak akan suka makanan di rumah sakit ini.”Sebastien menegok kanan kirinya, memastikan tidak ada staff rumah sakit ataupun perawat disekelilingnya. Ia kemudian merogoh kotak bento di bawah ranjang Xara dan membukanya, “Aku harap kau suka.”

Xara menatap kagum bola – bola nasi yang dibungkus dengan selembar nori dengan begitu rapi, “Masakan jepang ? Tidak biasanya.” Ujarnya heran. Xara menjumput telur dadar dan memasukannya ke mulutnya, ia mengunyahnya lambat seakan menyadari sesuatu dan bergumam, “Terbuat dari apa sih tanganmu ?” Ia menarik tangan Sebastien dan membolak – baliknya seperti membolak – balik pakaian. “Memasak kan bukan hanya pakai tangan,” kata Sebastien, “Mungkin kau juga mau membolak – balik lidahku ?”

Xara tertawa begitu mendengar candaan Sebastien, “Tidak akan.” Xara menyilangkan tangannya di depan dada dan mengucapkan kata ‘NO WAY’ panjang tanpa suara.

“Sebenarnya kenapa kau memilih bekerja di L’ambrosie ? Kenapa tidak di ‘Gourmet King’ atau restoran – restoran bintang lima yang lain ?” Tanya Xara sambil menyuapkan salmon ke dalam mulutnya.

“Kenapa ? Kau tidak suka aku disini ?” Tanya Sebastien.

“Bu-bukan begitu.”Jawabnya cepat. Terlalu cepat sampai – sampai ia tersedak karena salmon yang barusan ditelannya masih menyangkut di tenggorokan. Ia mengangkat telapak tangannya—mengisyaratkan Sebastien untuk menunggu— dan segera meneguk gelas air di hadapannya.“Maksudku, dengan kemampuan seperti itu, kau pasti dengan mudah diterima disana. Bayarannya juga pasti lebih besar.” Kata Xara setelah itu, “Kau sendiri tahu kan, L’ambrosie hanya restoran bintang empat. Yah, walaupun lumayan terkenal tapi kan…”

“Aku bekerja disini karena ada seseorang.”sela Sebastien. Tatapannya menerawang. “Kukira aku sudah bisa lepas darinya… tapi ternyata belum.” Ia memaksakan dirinya untuk tertawa. Tetapi itu lebih terdengar seperti ringikan di telinga Xara.

“Kalau boleh tahu, sia…” “Jam 1 ! Maaf Xara, aku harus pergi. Jaga kesehatan. Perhatikan jalan kalau kau mau menyeberang! Aku pergi dulu. Adieu !bye” Sebastien mengucapkannya sambil berjalan mundur dan diakhiri dengan bunyi pintu tertutup.

Xara benar – benar terlihat seperti orang bodoh sekarang. Ia terduduk sambil mengangkat tangannya dengan mulut yang masih terbuka lebar. Ia menarik nafas dalam – dalam dan berusaha untuk tidak terlihat peduli dengan apa yang terjadi barusan.
Xara tahu Sebastien Michel berusaha mengelak darinya.


“Xara, kau sudah bangun ?”
Xara menoleh kearah pintu, ia tahu siapa pemilik suara ini. Suara bernada rendah dan lembut, siapa lagi kalau bukan …

“Eliz ! Kemana saja kau selama ini !?” Sambut Xara sambil tersenyum lebar. Senyumnya tergantikan begitu ia melihat sahabatnya yang bersusah payah membuka pintu dengan punggungnya. Ia bermaksud membantunya, kalau saja kondisinya tidak selemah ini. 

“Aku bawakan kau buah – buahan.” Kata Eliz setelah ia berhasil masuk. Ia menaruh sekeranjang penuh buah di meja sebelah tempat tidur Xara. “Kira – kira sedikit kalau kau mau bawa sesuatu.” Gerutu Xara begitu melihat meja kecil itu hampir oleng begitu Eliz menapakkan keranjangnya. “Maaf, maaf,” sahut Eliz sambil tertawa bersalah. Xara menatap Eliz sejenak dan ada sesuatu yang tidak biasanya dari gadis itu. “Matamu ? Biru ? Kau pakai contact lens ?” Tangannya menunjuk kearah mata Eliz.
Eliz terkekeh pelan, “Biru adalah warna mata asliku. Kau kaget, ya ?”

Xara merasa ada bola beton meninju hatinya, tepat di ulu hatinya. Bagaimana mungkin…

“Selama ini aku pakai soft lens warna Hazel, kau tidak menyadarinya ?” Lanjut Eliz lagi. Ia sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresi Xara.

Xara sendiri terdiam sambil menggenggam selimutnya erat – erat. Ia tidak bisa tersenyum. Tetapi juga tidak bisa menangis .Eliz Dubois sedang apa dihadapannya. Dinginnya hawa rumah sakit kini mulai meresap dalam kulitnya. Pikirannya dihiasi tanda tanya. Semua ini karena ia menuruti rasa keingintahuannya membuntuti orang itu.

Semua ini karena perasaannya.

to be continued ...
Callmemilii.blog.com    callmemilii.blog.com    callmemilii.blog.com




 Thanks for reading :)
sori buat yang nunggunya kelamaan m.____.m
Comment please :) means a lot for me :D