Gadis kecil itu menghela nafas panjang, sesekali ia mengetuk - ngetukkan jarinya di atas meja. Dalam hati ia berpikir, berapa lama lagi ia harus menunggu temannya yang tak kunjung datang. Sunny tahu kebiasaan temannya ini, tidak pernah mengerti arti sebuah jam tangan. Sudah banyak orang yang dirugikan akibat kebiasaan buruknya itu. Sunny berusaha mencari kesibukan apapun, sampai ia menangkap sudut yang familier dari sudut matanya, ia menegadah, menatap sosok itu, lalu sontak berteriak "Lukas, disini !"
Tunggu, apa kau baru menyebut Lukas ? Apakah tidak aneh jika seorang perempuan mempunyai sahabat dekat seorang lelaki ? Semua orang pasti berpikir begitu. Setidaknya itu yang ia dengar dari orang - orang yang mengetahui persahabatannya dengan Lukas.
Mengapa perempuan mempunyai sahabat lelaki dicap aneh ? Sunny selalu mempertanyakan hal itu. Sunny yakin, bukan hanya dai di muka bumi ini yang mempunyai sahabat lawan jenis. Lalu apa yang membuat orang - orang begitu sinis padanya saat ia mengatakan Lukas adalah sahabatnya ? Satu - satunya jawaban yang dipikirkan Sunny adalah karena Lukas mempunyai kualitas wajah di atas rata - rata. Ia bisa dikatakan yakin dengan anggapannya ini karena sudah banyak wanita yang "memanfaatkannya" untuk mendapatkan Lukas. Yah, resiko punya temen cakep.
"Lo nunggu lama ?"
"Ga, bentar doang. Cuma 1 setengah jam." Sunny menatap Lukas dengan mata disipitkan, "Lo ngapain aja sih di rumah ?"
Lukas tersenyum,"Jadi gini, jam 11 sebenernya gua udah sampe rumah. Tinggal siap - siap terus berangkat."
"Terus ?"
"Gua ngerjain tugas lo dulu." Lukas menatapnya sambil tersenyum. Senyum yang dapat meluluhkan wanita selain dirinya.
Lukas menyodorkan beberapa lembar kertas, dan Sunny ragu sebentar sebelum akhirnya menerima kertas - kertas itu.
"Lo ... ngerjain ini semua ?" Sunny membolak - balik isi halaman. Sorot matanya memancarkan sedikit kekaguman, ia tidak menyangka Lukas ternyata lumayan ahli dalam bidang travelling.
"Kalo bukan gue siapa lagi ?" Lukas tersenyum penuh kebanggaan.
"Lukk" Sunny menatap sahabatnya dengan tatapan memelas. "Lo emang sahabat terbaik yang gue punyai."
Mereka berdua tertawa bersama tanpa kecanggungan diikuti dengan Lukas yang membangga - banggakan dirinya. Sunny terbahak melihat kenarsisan sahabatnya itu. Ia yakin jika fans Lukas melihat Lukas seperti ini di kampus, mereka mungkin akan berpikir ulang untuk menjadikan Lukas idolanya. Hmm, atau tidak.
"By the way, kapan lo berangkat ke New York ?" Tanya Lukas saat Sunny menyeruput Caramel Macchiato-nya.
"Lusa gue berangkat, doain gua bisa lulus ujiannya ya."
"Gua doain lo pulang bawa oleh - oleh yang banyak. Amin." Lukas menutup matanya seakan - akan ia sedang berdoa. Sunny tertawa kecil.
"Oh iya, gue hampir lupa." Sunny menyadari sesuatu dan ia mengobok - obok isi tasnya dengan giat, kemudian ia mengeluarkan Flashdisk kerokeropi-nya, "Balasan karena lo udah ngebantu tugas gue"
"Itu yang gua suka dari lo " Jawab Lukas sembari menerima Flashdisk tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar