Gadis kecil itu menghela nafas panjang, sesekali ia mengetuk - ngetukkan jarinya di atas meja. Dalam hati ia berpikir, berapa lama lagi ia harus menunggu temannya yang tak kunjung datang. Sunny tahu kebiasaan temannya ini, tidak pernah mengerti arti sebuah jam tangan. Sudah banyak orang yang dirugikan akibat kebiasaan buruknya itu. Sunny berusaha mencari kesibukan apapun, sampai ia menangkap sudut yang familier dari sudut matanya, ia menegadah, menatap sosok itu, lalu sontak berteriak "Lukas, disini !"
Tunggu, apa kau baru menyebut Lukas ? Apakah tidak aneh jika seorang perempuan mempunyai sahabat dekat seorang lelaki ? Semua orang pasti berpikir begitu. Setidaknya itu yang ia dengar dari orang - orang yang mengetahui persahabatannya dengan Lukas.
Mengapa perempuan mempunyai sahabat lelaki dicap aneh ? Sunny selalu mempertanyakan hal itu. Sunny yakin, bukan hanya dai di muka bumi ini yang mempunyai sahabat lawan jenis. Lalu apa yang membuat orang - orang begitu sinis padanya saat ia mengatakan Lukas adalah sahabatnya ? Satu - satunya jawaban yang dipikirkan Sunny adalah karena Lukas mempunyai kualitas wajah di atas rata - rata. Ia bisa dikatakan yakin dengan anggapannya ini karena sudah banyak wanita yang "memanfaatkannya" untuk mendapatkan Lukas. Yah, resiko punya temen cakep.
"Lo nunggu lama ?"
"Ga, bentar doang. Cuma 1 setengah jam." Sunny menatap Lukas dengan mata disipitkan, "Lo ngapain aja sih di rumah ?"
Lukas tersenyum,"Jadi gini, jam 11 sebenernya gua udah sampe rumah. Tinggal siap - siap terus berangkat."
"Terus ?"
"Gua ngerjain tugas lo dulu." Lukas menatapnya sambil tersenyum. Senyum yang dapat meluluhkan wanita selain dirinya.
Lukas menyodorkan beberapa lembar kertas, dan Sunny ragu sebentar sebelum akhirnya menerima kertas - kertas itu.
"Lo ... ngerjain ini semua ?" Sunny membolak - balik isi halaman. Sorot matanya memancarkan sedikit kekaguman, ia tidak menyangka Lukas ternyata lumayan ahli dalam bidang travelling.
"Kalo bukan gue siapa lagi ?" Lukas tersenyum penuh kebanggaan.
"Lukk" Sunny menatap sahabatnya dengan tatapan memelas. "Lo emang sahabat terbaik yang gue punyai."
Mereka berdua tertawa bersama tanpa kecanggungan diikuti dengan Lukas yang membangga - banggakan dirinya. Sunny terbahak melihat kenarsisan sahabatnya itu. Ia yakin jika fans Lukas melihat Lukas seperti ini di kampus, mereka mungkin akan berpikir ulang untuk menjadikan Lukas idolanya. Hmm, atau tidak.
"By the way, kapan lo berangkat ke New York ?" Tanya Lukas saat Sunny menyeruput Caramel Macchiato-nya.
"Lusa gue berangkat, doain gua bisa lulus ujiannya ya."
"Gua doain lo pulang bawa oleh - oleh yang banyak. Amin." Lukas menutup matanya seakan - akan ia sedang berdoa. Sunny tertawa kecil.
"Oh iya, gue hampir lupa." Sunny menyadari sesuatu dan ia mengobok - obok isi tasnya dengan giat, kemudian ia mengeluarkan Flashdisk kerokeropi-nya, "Balasan karena lo udah ngebantu tugas gue"
"Itu yang gua suka dari lo " Jawab Lukas sembari menerima Flashdisk tersebut.
Rabu, 06 November 2013
Minggu, 01 Juli 2012
Bouillabaisse part 3 :)
Xara menelusuri jalan pulang dengan kaki dientak – entakan.
Perasaannya tak menentu. Ia mulai berpikir hal – hal yang tidak biasa. Oh my God… Xara melirik kotak bekal
bekas Bouillabaisse tadi yang dibawanya pulang. Jantungnya berdebar kencang
saat ini dan ada perasaan gelisah disana. Ia menggigit bibirnya, dan sesekali
memukul – mukul pipinya dengan satu tangan. “Bodoh, sadarlah.” Gumamnya.
Ia baru hendak memukuli wajahnya lagi, ketika melihat
seberkas sinar datang dari lampu dim mobil Lexus hitam tipe RX di seberang
jalan. Ia menyipitkan matanya sesaat, dan melihat sekelebat pria keluar dari
mobil itu. Ia menyipitkan matanya lagi, menimbang – nimbang siapa pria itu. Sejujurnya,
dari yang ia lihat sepintas tadi, ia seperti mengenal laki – laki itu. Ia menuruti
nalurinya, kakinya melangkah mengendap –
endap mengikuti pria itu. Pria itu
terhenti di suatu lapangan parkir luas didepan sebuah pabrik yang sudah tak
terpakai. Xara berada di kejauhan mengamati lelaki itu berbincang – bincang
dengan seorang wanita. Ia bersembunyi dibalik tumpukan kardus bekas yang
jaraknya kira – kira 10 meter dari kedua orang itu. Dan seperti yang ia kira,
ia tidak mendengar apa – apa dengan jarak 10 meter. Tetapi ia juga tidak bisa
mendekat. Selain tumpukan kardus itu, tidak ada tempat yang bisa menyembunyikan
dirinya. Hanya ada tanah lapang didepannya.
“Siaal,” umpatnya sambil harap-harap-cemas kedua atau
setidaknya salah satu dari orang itu berbicara lebih keras lagi. Ia benar –
benar tidak bisa mendengar apa – apa.
Oh, tidak, Xara tidak akan pulang dengan tangan kosong. “Kalau
aku tidak bisa mendengar, setidaknya aku bisa melihat.”batin Xara. Ia menunggu
saat yang tepat, sebelum akhirnya mulai melongokkan kepalanya perlahan – lahan.
Tangannya berpegangan erat pada sisi ujung kardus, dan ia mulai menyembulkan
kepalanya sedikit demi sedikit. Sosok pertama yang ia lihat adalah seorang
perempuan. Badannya kurus, tinggi, dan sebagian wajahnya ditutupi oleh syal dan
kacamata hitam. Sedangkan yang lelaki … Hmm … Xara tidak tahu. Lelaki itu
membelakanginya sehingga yang ia bisa lihat hanya punggung dan tingginya saja.
Bahkan rambutnya ditutupi oleh topi wol. Setelah mengamati begitu lama, Xara
menyadari kalau tadi perkiraannya tidak salah. Postur tubuh lelaki ini mirip
dengan Sebastien. Bahkan bisa dibilang sama. Sebastien memiliki bahu yang lebar
dan tinggi kira – kira 6 kaki, yang ia bisa lihat dari lelaki berjaket itu.
Kalau memang benar dia Sebastien, apa yang dia lakukan malam – malam begini di
tempat seperti ini ? Xara mencoba menebak – nebak akan apa yang biasa dilakukan
seorang lelaki pukul setengah sepuluh malam didepan pabrik kosong. Tetapi tidak
ada jawaban positif yang dapat menghilangkan dugaan kuatnya tentang transaksi
gelap—dan yang paling disangkalnya—mafia. Xara menertawakan dirinya sendiri.
Tidak mungkin kan Sebastien berkomplot dengan mafia ? Dan lagi belum tentu juga
laki – laki itu adalah Sebastien … Oh, oh ! Perempuan itu membuka kacamata
hitamnya. Xara memiringkan kepalanya sedikit untuk bisa melihat lebih jelas.
Perempuan itu menangis. Matanya biru, rambutnya ikal berwarna oranye cerah—yang
bisa ia lihat dari poninya, hidungnya mancung dan kulitnya pucat. Terlintas
sebuah nama ketika Xara memikirkan semua kombinasi itu.
Eliz.
Tetapi bedanya, Eliz mempunyai mata Hazel, dan ia cukup
yakin sahabatnya itu tidak memakai contact
lens. Xara menghela nafas panjang. Berbagai dugaan berputar – putar dalam
otaknya. Semuanya menjadi rumit sekarang. Ia melongokkan kepalanya lagi menatap
kedua manusia itu. Mereka seperti membicarakan sesuatu. Atau lebih tepatnya
mendebatkan sesuatu. Sampai suatu
ketika, perempuan itu melingkarkan tangannya ke pundak lelaki itu. Kalau lelaki itu memang Sebastien… Kalau
benar dia Sebastien… Xara terlonjak dari kegiatan mata – matanya dan
bersembunyi di balik kardus – kardus bewarna coklat. Nafasnya sesak memikirkan
kilas balik kejadian tadi. Ia tidak berani berharap ….
Callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com
Burung – burung mengerubunginya dan mematuk kepalanya
sesekali di sela – sela kicauannya. Namun gadis itu bergeming. Ia tetap
menyeret kakinya putus asa, bergesekan dengan aspal jalan. Tubuhnya gontai
seakan tidak ada tulang yang menyangga badannya. Sebastien mengamati gadis itu
lekat – lekat. Terdapat kantung hitam di sekitar matanya. Apa dia tidak tidur ?
Sebastien teringat akan pertandingan sepakbola kemarin malam. Tidak, tidak.
Xara sepertinya bukan tipe wanita yang menggemari sepakbola atau semacamnya.
Sebastien membenarkan letak topinya dan kembali mengekor dibelakang gadis itu. Ia
mengendap – endap, beralih dari tiang lampu satu ke tiang lampu lainnya. Ia
tidak memerdulikan orang – orang disekitarnya yang mulai menatapnya aneh dan
sebagian lagi menatapnya seakan – akan ia orang gila. Sorot matanya berubah
ketika ia melihat Xara akan menyeberang. Gadis itu menatap lurus ke depan tanpa
menunjukkan tanda – tanda akan menoleh barang sedikitpun. Hal itu tentu saja
bukan menjadi masalah bagi Sebastien kalau saja….
Mobil sedan itu tidak sedang melaju kencang ke arahnya.
Matanya membelalak melihat rentetan kejadian itu. Bagaimana
mobil itu menabraknya, bagaimana gadis itu terjatuh dan kepalanya membentur
tanah, bagaimana orang – orang disekitarnya sontak berteriak dan mengerubutinya…
Semua terjadi begitu jelas di depan Sebastien. Terlalu jelas
mungkin. Ia mematung sesaat sebelum seluruh sarafnya menghentak otaknya untuk
berbuat sesuatu.
“Xara!!” Sebastien berlari sekuat tenaga menghampiri gadis
itu. Jantungnya berdetak tak keruan bahkan sebelum ia melangkah. Ia membelah
kerumunan orang yang menjawab sebagian keraguannya tentang ‘apa dia baik – baik
saja’.
Sebastien menatap nanar sosok wanita bersyal hitam yang
tergeletak di aspal jalan. Darah mengucur dari hidung dan mulutnya.
Tidak mungkin.
Callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com
Xara membuka matanya pelan – pelan. Hal pertama yang dilihatnya
adalah kepala teman – temannya yang mengelilinginya, membentuk sebuah lingkaran
dengan . “Kau tidak apa – apa, Xara ?”Tanya Rosalie, mewakili pertanyaan semua
orang. Xara menarik pantatnya, dan terduduk di kursi. Sambil menggosok – gosok
matanya—seakan ia baru bangun tidur—ia bergumam, “Kurasa begitu.”
Seketika semua orang yang ada di ruangan itu menghela nafas
lega. “Tapi, disini.” Xara memegang bagian kanan atas perutnya, “Seperti barusan
ada yang memukuliku.” Xara meringgis kaku. “Kau sudah tidur selama 3 hari, kau
tahu ? Lebih baik kau ceritakan pada kami bagaimana kau bisa menjadi seperti
ini.” Emile—salah satu teman Xara yang diketahuinya paling tidak sabaran—menatap
selang infus yang melekat di tempurung tangannya. Xara memiringkan kepalanya
menghadap sahabatnya itu, “Tahan kicauanmu Emile. Kau mulai membuat kami
takut.”katanya. “Aku juga tidak begitu tahu bagaimana ini bisa terjadi. Saat
itu aku sedang menyeberang jalan, dan hal terakhir yang kulihat adalah tampak
depan mobil sedan, dan bumi seolah berputar. Setelah itu aku tidak ingat apa –
apa lagi.” Jelas Xara.
“Bumi memang berputar, bodoh.” Sahut Pierre, mantan adik
kelasnya dahulu yang sekarang sudah menjadi chef di tempatnya bekerja. “Hei,
kau, bocah ingusan! Seperti itu caramu bicara kepada seniormu yang baru
mengalami kecelakaan ?” Xara meninggikan suaranya beberapa oktaf. Ia selalu
merindukan saat – saat ini. Saat dimana dia bisa melupakan semua masalah yang
ada, bercanda tawa dengan teman – temannya ,dan menjadi dirinya sendiri. Sesaat
Xara bisa melupakan orang itu. Lelaki yang merenggut sebagian besar alasannya
untuk tertawa. “Hé ! Kau
bukan kakak kelas ataupun seniorku lagi, bodoh. Kedudukan kita sama sekarang. Tunggu,
tunggu … mungkin aku lebih tinggi darimu. Bagaimanapun juga aku adalah seorang chef dan kau adalah seorang waitress, ya’kan ?
” Goda Pierre sambil menyunggingkan
senyum kebanggaannya. Xara mendengus mendengar kalimat terakhir Pierre. Anak itu selalu saja menganggap pekerjaan pelayan lebih rendah daripada koki. Ia baru
akan membuka mulut ketika Mabel dan yang lainnya menatapnya penuh arti. “Apa ?”
Ia menatap temannya satu persatu, “Kenapa kalian menatapku seperti itu ?” Tanya
Xara. “Kalau lidah tajam Pierre bisa membuatmu kembali seperti ini, semestinya
dari dulu aku tidak melaranginya berbicara denganmu. Yah, kau tahu sendiri,
Pierre tidak pernah mengucapkan sesuatu yang lembut.” Sahut Cecile. Xara tidak
tahu ia harus menjawab apa, jadi ia hanya mengangguk – angguk tanda mengerti.
Tiba – tiba ia teringat seseorang. Ia mengamati satu persatu
teman – temannya yang ada di situ. Tidak ada. Orang itu tidak ada. Anne yang
menyadari gerak geriknya, bertanya padanya. Namun sepertinya ia salah mengartikan
subyek yang dicari Xara,“Kau mencari Eliz ? Kurasa dia akan datang sebentar
lagi. Dia bilang dia akan menyusul kami kalau shiftnya sudah selesai.” Xara manggut – manggut mendengar
penjelasan Anne. “Sebastien,” Xara menggerak – gerakkan tangannya salah
tingkah, “Dia kemari ?”
Anne tidak dapat menahan senyum melihat tingkah laku Xara
saat menanyakan pria itu, “Ooh, jadi bukan Eliz.” Xara mendelik padanya. “Tadi
dia bilang padaku dia mau mengurus ke kantor polisi soal pengemudi yang menabrakmu.
Aku tidak tahu kapan dia akan datang.” Ucap Anne sambil menahan senyum.
Tepat setelah itu, pintu kamar Xara terbuka cepat. Xara dan
teman – temannya spontan menoleh ke arah pintu yang terbuka, menampilkan sosok
lelaki berjaket abu – abu, “Whoa, kau
sudah sadar ?”
Xara mengangguk cepat, “Ya, begitulah.”Ia memutar otaknya
untuk menanyakan sesuatu, “Bagaimana urusanmu di kantor polisi ? Kau berhasil
menangkap pelakunya ?” Tanya Xara. “Kau harus berterimakasih padanya, bodoh.
Dia yang sudah menggendongmu kemari.” Tegur Pierre, membuat mata Xara melebar.
Xara menatap Sebastien yang tampak terkejut, tidak tahu harus menjawab apa.
“Kalau kau menganggap sikapku tidak sopan, aku minta maaf.” Xara buru – buru
menggeleng, “Sama sekali tidak. Justru aku yang harusnya minta maaf karena
sudah merepotkanmu… Dan, terimakasih sudah me-menggen..membawaku kemari.”
Ucapnya terbata – bata. Dalam hati, ia mensyukuri progam diet yang dilakukannya
beberapa bulan terakhir. Setidaknya, ia tidak terlalu berat saat Sebastien
‘membawa’nya kesini. Suasana dalam ruangan itu mendadak kaku. Xara tidak tahu
apa yang harus ia katakan setelah kejadian itu,dan begitu pula Sebastien.
“Dingin sekali disini.”Sindir Michelle.
“Dingin darima..” “Ayo, kita keluar.” Michelle menyela
kalimat Emile dan menyambar tangan sahabat – sahabatnya dan menarik mereka
keluar. Ia terhenti sebentar di perbatasan pintu, mengedipkan sebelah mata
hijau yang selalu dikagumi Xara. Xara membelalak melihat kedipan sahabatnya
itu, kemudian menoleh kearah Sebastien, memastikan lelaki itu tidak melihat kerjapan
penuh makna tadi. Sebastien sendiri tampak sibuk dengan iPhonenya yang berdering 3 detik yang lalu. Xara memperhatikan raut
wajah Sebastien lama. Lelaki itu memiliki sepasang mata almond, dengan alis
tebal yang berjarak 1 senti dari matanya. Hidungnya mancung dan ujung hidungnya
tinggi. Ia memiliki hampir semua ciri pria idaman Xara. Sayangnya, Sebastien
tidak memiliki jenggot. Xara selalu mengidam – idamkan lelaki berjenggot tiga
hari yang menurutnya sangat maskulin.
“Maaf,” Ucap Sebastien sambil memasukan ponselnya ke saku.
Xara tersadar dari lamunannya dan buru – buru mengalihkan pandangan saat
matanya bertemu dengan mata Sebastien, “Tidak apa – apa.” Jawabnya singkat.
“Umm ..” Sebastien mengintip bagian bawah ranjang rumah sakit Xara, “Kau sudah
makan ?” Xara menggelengkan kepalanya, “Mungkin sebentar lagi petugas rumah
sakit akan mengantar makananku.” Ia melirik jam dinding di atas pintu. 11.54.
“Biasanya perawat mengantar makananku jam 12 siang” jelasnya.
“Percayalah, kau tidak akan suka makanan di rumah sakit
ini.”Sebastien menegok kanan kirinya, memastikan tidak ada staff rumah sakit
ataupun perawat disekelilingnya. Ia kemudian merogoh kotak bento di bawah ranjang Xara dan membukanya, “Aku harap kau suka.”
Xara menatap kagum bola – bola nasi yang dibungkus dengan
selembar nori dengan begitu rapi, “Masakan jepang ? Tidak biasanya.” Ujarnya
heran. Xara menjumput telur dadar dan memasukannya ke mulutnya, ia mengunyahnya
lambat seakan menyadari sesuatu dan bergumam, “Terbuat dari apa sih tanganmu ?”
Ia menarik tangan Sebastien dan membolak – baliknya seperti membolak – balik pakaian.
“Memasak kan bukan hanya pakai tangan,” kata Sebastien, “Mungkin kau juga mau
membolak – balik lidahku ?”
Xara tertawa begitu mendengar candaan Sebastien, “Tidak
akan.” Xara menyilangkan tangannya di depan dada dan mengucapkan kata ‘NO WAY’
panjang tanpa suara.
“Sebenarnya kenapa kau memilih bekerja di L’ambrosie ?
Kenapa tidak di ‘Gourmet King’ atau restoran – restoran bintang lima yang lain
?” Tanya Xara sambil menyuapkan salmon ke dalam mulutnya.
“Kenapa ? Kau tidak suka aku disini ?” Tanya Sebastien.
“Bu-bukan begitu.”Jawabnya cepat. Terlalu cepat sampai –
sampai ia tersedak karena salmon yang barusan ditelannya masih menyangkut di
tenggorokan. Ia mengangkat telapak tangannya—mengisyaratkan Sebastien untuk
menunggu— dan segera meneguk gelas air di hadapannya.“Maksudku, dengan
kemampuan seperti itu, kau pasti dengan mudah diterima disana. Bayarannya juga
pasti lebih besar.” Kata Xara setelah itu, “Kau sendiri tahu kan, L’ambrosie
hanya restoran bintang empat. Yah, walaupun lumayan terkenal tapi kan…”
“Aku bekerja disini karena ada seseorang.”sela Sebastien.
Tatapannya menerawang. “Kukira aku sudah bisa lepas darinya… tapi ternyata
belum.” Ia memaksakan dirinya untuk tertawa. Tetapi itu lebih terdengar seperti
ringikan di telinga Xara.
“Kalau boleh tahu, sia…” “Jam 1 ! Maaf Xara, aku harus
pergi. Jaga kesehatan. Perhatikan jalan kalau kau mau menyeberang! Aku pergi
dulu. Adieu !bye” Sebastien mengucapkannya sambil berjalan mundur
dan diakhiri dengan bunyi pintu tertutup.
Xara benar – benar terlihat seperti orang bodoh sekarang. Ia
terduduk sambil mengangkat tangannya dengan mulut yang masih terbuka lebar. Ia
menarik nafas dalam – dalam dan berusaha untuk tidak terlihat peduli dengan apa
yang terjadi barusan.
Xara tahu Sebastien Michel berusaha mengelak darinya.
“Xara, kau sudah bangun ?”
Xara menoleh kearah pintu, ia tahu siapa pemilik suara ini.
Suara bernada rendah dan lembut, siapa lagi kalau bukan …
“Eliz ! Kemana saja kau selama ini !?” Sambut Xara sambil
tersenyum lebar. Senyumnya tergantikan begitu ia melihat sahabatnya yang
bersusah payah membuka pintu dengan punggungnya. Ia bermaksud membantunya,
kalau saja kondisinya tidak selemah ini.
“Aku bawakan kau buah – buahan.” Kata Eliz setelah ia
berhasil masuk. Ia menaruh sekeranjang penuh buah di meja sebelah tempat tidur
Xara. “Kira – kira sedikit kalau kau mau bawa sesuatu.” Gerutu Xara begitu
melihat meja kecil itu hampir oleng begitu Eliz menapakkan keranjangnya. “Maaf,
maaf,” sahut Eliz sambil tertawa bersalah. Xara menatap Eliz sejenak dan ada
sesuatu yang tidak biasanya dari gadis itu. “Matamu ? Biru ? Kau pakai contact lens ?” Tangannya menunjuk kearah
mata Eliz.
Eliz terkekeh pelan, “Biru adalah warna mata asliku. Kau
kaget, ya ?”
Xara merasa ada bola beton meninju hatinya, tepat di ulu hatinya. Bagaimana
mungkin…
“Selama ini aku pakai soft lens warna Hazel, kau tidak
menyadarinya ?” Lanjut Eliz lagi. Ia sama sekali tidak menyadari perubahan
ekspresi Xara.
Xara sendiri terdiam sambil menggenggam selimutnya erat –
erat. Ia tidak bisa tersenyum. Tetapi juga tidak bisa menangis .Eliz
Dubois sedang apa dihadapannya. Dinginnya hawa rumah sakit kini mulai meresap
dalam kulitnya. Pikirannya dihiasi tanda tanya. Semua ini karena ia menuruti
rasa keingintahuannya membuntuti orang itu.
Semua ini karena perasaannya.
to be continued ...
Callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com
Thanks for reading :)
sori buat yang nunggunya kelamaan m.____.m
Comment please :) means a lot for me :D
Senin, 28 Mei 2012
When sun goes down
Ini adalah sebuah kisah, kisah sederhana dari sebuah percintaan luar biasa antara Eve dan Adam. Dua anak manusia biasa, yang diikat erat dalam suatu tali asmara. Kisah cinta mereka dengan mudah dimengerti semua orang. Meski tanpa pelukan, rayuan, ataupun ciuman mesra, sepasang mata yang menatap dengan mudah menggambarkan semuanya. Semudah itu. Sesederhana itu.
Sepasang sejoli itu sedang berjalan-jalan menyusuri ladang seperti biasanya. Adam mengayuh, dan Eve di belakang memegang bahunya kuat - kuat. Sesekali ia mengangkat sebelah tangannya—merapikan rambutnya yang diterpa angin. Mereka terhenti di sebuah ladang rumput yang cukup luas dan memandangi langit senja yang memerah.
Hening merayapi keduanya. Tetapi beginilah mereka—menghargai setiap sunyi yang ada, dan menggunakannya untuk menyalurkan perasaan pribadi masing-masing.
Sampai ..
"Adam, aku mau bicara sesuatu padamu,"
"Ada apa, Eve ? Kau sedang ada masalah ?"
"Tidak, tidak. Aku minta maaf sebelumnya, tadi pagi ada sedikit kebocoran di rumahku, kau mungkin tidak bisa menghubungiku untuk sementara ini. Dan besok, aku diajak paman Frank untuk mengunjungi rumah barunya. Mungkin aku mungkin tidak ada di rumah seharian penuh." Eve menatap kekasihnya itu dan tersenyum lembut.
"Jadi besok … kita tidak bisa bertemu ?"
"Maafkan aku, tapi kau tidak usah khawatir, lusa Paman Sam datang—ia sudah berjanji untuk memperbaiki jaringan teleponku yang rusak. Aku juga hanya akan menginap satu malam di rumah paman Frank."
"Itu berarti aku akan bertemu denganmu lusa ?"
" Aku akan menunggumu di gubuk." Jawab Eve.
Adam menatap Eve dengan senyuman terukir di wajahnya. Senyum yang tak bisa ia sembunyikan ketika ia sedang bersama gadis itu. Senyum yang membawa sejuta—oh, tidak— seribu juta perasaannya.
"Adam, apakah kau mencintaiku ?"
Adam terkekeh pelan, "Kau meragukan itu ?"
Eve tertunduk dan menggeleng pelan, "Tidak, tidak. Aku hanya ingin kau berkata, 'aku mencintaimu, Eve'" Eve berdiri dari rerumputan tempat ia bersimpuh dan menatap Adam lekat - lekat.
"Aku mencintaimu, Eve." Adam membalas tatapan Eve dan menatap gadis itu dengan senyuman, "Dan seumur hidupku, aku akan terus mencintaimu. Kau tidak boleh meragukan itu.” Lelaki itu menarik nafas singkat,"Ada apa denganmu hari ini, Eve ? Tidak biasanya kau begini."
Sejenak mereka saling berpandang-pandangan. Tanpa suara, tanpa kata, namun hati mereka saling berbicara. Bertanya – tanya antara satu dengan yang lainnya. Hembusan angin menyatukan keduanya, Adam memeluk tubuh mungil Eve yang menggigil kedinginan. Sampai kemudian Adam mencondongkan tubuhnya. Semakin dekat. Semakin dekat. Semakin dekat sampai kedua bibir mereka bertaut.
Callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com
Esok pun tiba, sesuai apa yang dikatakan Eve, mereka tidak akan bertemu hari ini. Adam tidak yakin apakah ia mampu melewati satu hari tanpa wanita itu. Ia meraih bingkai lukisan di pojok rumah kecilnya. Kanvas itu dipenuhi dengan wajah seorang gadis. Pipinya merona merah jambu, rambutnya yang terurai membias kecoklatan diterpa cahaya sore, matanya menyipit disambut mulutnya yang tersenyum lebar. Gadis itu … Eve. Sebenarnya, Adam tidak benar – benar melukis ini pada saat Eve sedang tersenyum . Ia hanya mengingat bagaimana gadis itu menyipitkan matanya, bagaimana lesungnya merona kemerahan, bagaimana gadis itu tersenyum padanya.
Adam meraih sebuah kanvas kosong disela–sela rak kayunya, ia menggigit satu kuasnya dan mulai melukis dengan kuas lain.
Seberkas cahaya memantul dari sela-sela tirai di wajah Adam. Ia terbangun dari lantai, dan mengamati lukisan yang kemarin dibuatnya. Masih ada ruang putih di pucuk kanan kanvas itu. Adam membetulkan posisi duduknya, dan menggores-goreskan warna di pucuk kanvas itu.
Aku harus selesai sebelum matahari terbenam, Adam berkata kepada dirinya sendiri. Sampai Eve datang.
Cahaya kemerahan menghiasi langit yang tadinya biru itu. Matahari terbingkai separuh dibalik e’awanan yang mulai menenggelamkan dirinya. Semburat warna jingga memancar sempurna— menyinari seorang lelaki yang sedang berlari melewati ladang gandum—dengan kanvas dan mawar putih terapit di lengannya. Adam mengabaikan peluh dan nyeri di kakinya, ia terus berlari melintasi tangkai-tangkai gandum yang menguning diterpa cahaya senja. Sebentar lagi, sedikit lagi … Adam berkata kepada dirinya sendiri. Langkahnya melambat begitu melihat sebuah gubuk tua beratap daun Rumbia, berdiri ditengah hamparan hijau sawah. Eve, hanya itu yang ada dipikirannya. Ia melangkahkan kakinya secepat yang ia bisa, sembari mengatur nafasnya yang takberaturan. Senyum mengembang di wajahnya, membayangkan ia akan segera bertemu lagi dengan Eve. Ia tidak sabar melihat gadis itu. Senyumnya. Suaranya. Semuanya . Adam melongokkan kepalanya, menyingkap tirai kain lusuh tersebut. Tak satu orangpun tertangkap di pandangannya. Bukannya Eve berjanji akan menemuiku di sini ? Ia memutar haluannya, hendak menuju rumah Eve, begitu ia melihat rupa Eyang Sumbi—wanita tua yang biasanya menemani Eve di gubuknya. Adam berlari-lari kecil menghampiri wanita tua renta itu.
“Eyang,” ucapnya lirih, “Eyang melihat Eve ?”
Eyang Sumbi mengerutkan keningnya, sudah bisa dipastikan, ia tak mendengar apa yang Adam ucapkan mengingat usianya sudah sesenja itu.
“Ee..vee” Adam mengeja dan memperkuat amplitudonya, “Eyang melihat dia ?”
“Ru..mah .. sakit.” Eyang Sumbi berbicara dengan tertatih-tatih. Rupanya eyang mengerti apa yang diucapkannya. Tapi, apa yang Eve lakukan di rumah sakit ? Tiba-tiba, secuil perasaan tidak enak menguasai hatinya.
“Makasih eyang ” Adam berlari menuju tempat yang disebutkan Eyang. Hanya ada satu rumah sakit di kota ini, Adam tahu harus melangkahkan kakinya kemana.
Ia terhenti di sebuah gedung putih, diselimuti pepohonan rindang di kiri-kanannya. Pikirannya semakin kalut, perasaannya semakin tidak enak. . Ia harus bertemu Eve, ia benar-benar harus bertemu dengan gadis itu sekarang.
Tep!
Adam merasa ada seseorang yang menepuk pundaknya. Ia menoleh dan melihat seorang wanita—mirip dengan Eve—memegang erat bahunya “ Kau mau bertemu Eve, bukan ?” Lea menarik lengan Adam, berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit. Adam membiarkan dirinya terdiam oleh berbagai kemungkinan yang berputar di otaknya. Lea melepaskan cengkeramannya begitu mereka berdua terhenti di depan sebuah pintu putih bertuliskan angka “207” dibagian tengahnya.
Oh tidak … perasaannya semakin tidak enak…
“Kau boleh masuk,” Lea mempersilakan kekasih adiknya itu sembari menatapnya cemas.
Adam memegang kenop kuning dingin itu, dan memutarnya. Ada suara berdecit yang semakin membuat merinding ulu hatinya. Ia mendongakkan kepalanya perlahan, menangkap wajah seorang gadis yang sedang tertidur nyenyak dibalut selimut putih itu..
Lukisan itu terjatuh.
Apa maksudnya ini ? Siapa dia ?
Adam berusaha melangkah dengan kakinya yang mendadak lumpuh.
Tidak, ia tidak bisa melangkah, ia bahkan belum berjalan sesenti pun.
Hening di ruangan itu meremas hatinya. Seseorang, siapapun ! Siapa gadis itu !? Jangan katakan… Jangan coba coba katakan …
Adam merasa seseorang menggenggam pundaknya, membimbingnya untuk maju. Walaupun kulitnya tidak bersentuhan langsung dengan telapak orang itu, ia merasakan dingin, dingin yang begitu menusuk menghujam pundaknya.
Ia terhenti tepat di samping ranjang itu. Keraguannya terjawab, pertanyaannya terjawab.
Gadis itu adalah Eve.
Adam hampir menjerit keras begitu melihat wajah wanita itu ada disana. Tertidur dengan lelap, tanpa beban, tanpa dosa, dan tanpa hembusan nafas. Ya, memang Adam selalu menyukai wajah Eve yang polos, tanpa ada cela dimanapun. Tapi tidak untuk saat ini…
Adam mendudukkan kepalanya, tubuhnya bergetar hebat menahan tangis. Butiran-butiran air mata jatuh menghujani seprai putih bersih itu. Ia mencengkeram selimut biru laut itu dengan segenap kekuatannya, “EVE KAU HARUS BANGUN, EVE ! KAU MASIH INGAT JANJIMU PADAKU DULU !? KAU BILANG KAU TIDAK AKAN PERNAH MENINGGALKANKU ! KAU BILANG KAU AKAN TERUS DI SISIKU ! Tapi kenapa … sekarang .. sekarang…” Adam tersungkur lemas, ia berbisik pelan dengan seluruh sisa tenaganya, “Kau harus bangun, Eve”
***
Lea menyodorkan secarik kertas kearah Adam. Lelaki itu menatapnya panjang, baru menyambut kertas lusuh tersebut. Perlahan, ia membuka kertas itu, ia mengerjapkan matanya beberapa kali, dan kemudian menyadari tulisan itu tulisan Eve.
Adam, jika kau membaca surat ini, itu berarti aku sudah tidak ada di dunia ini. Aku minta maaf untuk tidak memberitahumu tentang semua ini. Aku tidak tahu kapan dan bagaimana caranya untuk bisa memberitahumu.
Adam merasa air matanya mulai terbit, ia menghela nafas panjang, dan mulai melanjutkan membaca.
Kau tahu betapa takutnya aku jika aku telah menghancurkan senyum dan tawamu mengagumkan itu ? Aku rasa aku bisa mengutuk diriku seumur hidup jika aku telah melakukan hal itu.
Kau sudah melakukannya, Eve. Kau sudah melakukannya …
Yah, mungkin aku sudah menyakitimu kali ini. Dan aku mengaku, aku sudah berbohong padamu soal telepon rumahku yang rusak, soal paman Frank. Aku hanya tidak mau, kau melihatku di saat detik-detik ajalku. Maukah kau memaafkanku, Adam ?
“Lea,” Adam memalingkan wajahnya dar surat itu, menghadap Lea, “Pukul berapa Eve….pergi ?” Terlihat, Lea agak terkejut mendengar pertanyaan Adam, “Sesaat sebelum kau datang, sebenarnya. Tapi dari kemarin kondisinya sudah parah. Dokter bahkan belum bisa menyimpulkan penyakit apa yang dideritanya.”
Dan satu hal yang harus selalu kau ingat, Adam. Aku mencintaimu. Lebih dari hidupku sendiri. Kau tidak akan melihatku mati, Adam. Karena aku akan terus hidup selama kau mencintaiku. Di hatimu.
Adam menghembuskan nafas perlahan dari hidungnya, ia menutup mata sejenak, berusaha merasakan Eve yang hidup di hatinya.
Maukah kau menunggu, Adam ? Menunggu sampai saat itu tiba dan kita akan bersama lagi ? Aku tidak bisa pastikan itu kapan, namun satu yang bisa aku janjikan, aku akan terus menunggumu, Adam. Entah berapa tahun lamanya itu, aku akan tetap berada di sini, menunggumu bersama Bapa-ku disini.
Adam berlari menuju kamar rawat Eve, ia membuka—setengah membanting—pintu kamar tersebut dan berdiri di samping ranjang tempat Eve berbaring, menggenggam erat tangannya, “Aku tidak menyalahkanmu atas apapun juga, Eve. Sama sekali tidak. Dan terimakasih telah menungguku.” Ia menatap gadis itu dengan mata berkaca-kaca, seolah seluruh emosi jiwanya tertumpah disana. “Aku akan selalu mencintaimu, Eve. Selalu. Ingat itu.”
Adam mengamati gadis yang dicintainya itu untuk terakhir kalinya. Pandangannya terhenti begitu melihat seikat mawar putih tergenggam erat di dada gadis itu. Adam mengernyitkan dahinya, mawar ini …
“Eve tidak mau melepaskan mawar itu dari genggamannya sejak kemarin.” Lea muncul dari balik pintu kamar, “Dia bilang, mawar itu darimu. Mawar yang kau berikan dari awal pertemuan kalian sampai terakhir kalian bertemu.” Adam memandang lekat-lekat bunga mawar putih itu, “Dia menyimpan semuanya ?” Lea mengangguk dan tersenyum tipis, “Dia bahkan mengancam akan membenciku jika aku membuangnya.”
Adam membelai rambut berwarna karamel itu untuk terakhir kalinya. Ia dapat merasakan kelembutan di setiap helainya, seperti biasa. Wajahnya yang mungil, bola matanya yang bulat, semua itu takkan ia lupakan. Adam dapat merasakan air mata mulai membendung di pelupuknya.
Thanks God, you’ve given me such an beautiful angel
“Mama, mama.” Seorang bocah menarik-narik ujung rok ibunya. “Pria itu aneh sekali, bertahun-tahun aku melihatnya, ia selalu datang setiap hari dan itu selalu pukul 3 sore. Ia juga selalu meletakkan mawar putih di makam bibi, dan terkadang aku melihatnya bercakap-cakap dengan makam. Kau kenal dengannya, mama ? ” Tanya bocah itu, polos. Matanya tertuju pada makam tua berjarak beberapa meter di sebelahnya. Lea mengikuti arah pandangan buah hatinya, dan tersenyum mendapati lelaki itu bersimpuh sambil meletakkan bunga mawar putih di makam adiknya, “Dulu, bibimu adalah kekasih lelaki itu. Mereka berdua saling mencintai sampai akhirnya bibimu divonis suatu penyakit langka yang perlahan-lahan merenggut nyawanya.” Jawab Lea. “Kebersamaan mereka diakhiri dengan kematian bibimu, waktu itu kau belum lahir, jadi kau tidak tahu bagaimana keadaannya saat itu,” Lea menerangkan tanpa ditanya, “Lelaki itu berusaha terlihat tegar, meskipun pada awalnya ia menangis. Aku yakin, ia tidak mau terlihat lemah dihadapan Eve.” Lea mengakhiri penjelasannya. Dave— bocah kecil itu— manggut – manggut tanda mengerti. “Dia … begitu mencintai bibi ya ?” Mereka memandang Adam yang mulai bercakap – cakap dengan batu nisan dihadapannya dengan senyum mengembang di wajah lelaki itu. “Iya,” Lea menggenggam tangan anaknya, “Sangat.”
Callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com
Thanks for reading :D
Di sela-sela pembuatan Bouillabaisse part 3, tiba - tiba muncul inspirasi buat cerita ini . Dan ini pertama kalinya aku nulis cerpen sad ending, jadi kalau ada kurang-kurang harap maklum yaa (entah kenapa, aku ngerasa kalau paragraf awal - awal itu rada alay ya ?) *bow down* ditunggu komen dan sarannya :)
*btw, Bouillabaisse part 3nya masih on progress :)
Senin, 30 April 2012
Bouillabaisse part 2 :)
Xara duduk termenung menatap iPhonenya yang sedang menayangkan MV Carly Rae Jepsen – Call me maybe. Ia sudah menyetel lagu ini
puluhan kali, dan ini adalah kali pertama ia melamun saat mendengarkan lagu
itu. Biasanya ia akan menggerakkan kakinya, jarinya, kepalanya begitu mendengar
lagu ini dimainkan.
Tep!
Xara merasa ada seseorang yang menepuk pundaknya. Ia menoleh
dan mendapati Elizabeth Dubois tersenyum lebar padanya. Ia menarik dan
menduduki kursi didepan Xara. “Tidak biasanya kau datang jam segini.” Sindir
Eliz. “Memangnya tidak boleh ?”Xara melepas Headphonenya
dan menatap Eliz. Eliz menggeleng, “Tidak. Kalau kau datang pagi, reputasiku
sebagai ‘waitress of the month’ akan
tersingkir.” Xara ikut tertawa mendengar lelucon sahabatnya itu, mengingat
tidak ada ajang seperti waitress of the
month di L’ambrosie. “Lagu apa ?”
Tanya Eliz sambil menunjuk iPhone yang dari tadi dipegang Xara. Xara baru akan
menjawab, ketika mendengar namanya dipanggil oleh seseorang. Ia menoleh menatap
jendela dan mendapati …
Sebastien.
Lelaki itu tersenyum dari seberang jalan dan mengatakan
sesuatu padanya tanpa suara.
Melihat barang – barang bawaannya, Xara mengerti apa yang
harus ia lakukan.
Ia beranjak dari kursi, meninggalkan Eliz yang terlihat masih
menunggu jawabannya, tepat ketika Sebastien menyeberang jalan. Ia membuka pintu
masuk, dan dengan setengah terengah Sebastien berlari menaruh belanjaannya di samping
pintu itu.
“Merci” Ucap Sebastien sesaat sebelum ia mendaratkan kantung
– kantung plastiknya di tanah.
“Kau bawa apa saja ? Banyak sekali.” Xara mengamati
kantung-kantung plastik itu satu persatu. Sebastien mendongak kearah Xara
sejenak, “Bahan untuk hari ini,” Ia kembali melanjutkan menata belanjaannya,
“Bibi Macy tidak bisa datang hari ini.” Ia menggotong belanjaannya, hendak
melangkah ke dapur.
“Oh.” Bibi Macy adalah wanita yang ditugaskan untuk
menyiapkan bahan-bahan untuk para koki, sekaligus merangkap manager di resto
ini.
“Xara,” Eliz menarik tangan sahabatnya itu, “Sejak kapan kau
dan dia seakur ini ?” Bisiknya pelan. “Kenapa ? Kau juga yang dulu menyuruhku
untuk tidak memandangnya sebagai .. Peter,
kan ?” Xara bisa merasakan tenggorokannya berat saat akan mengucapkan nama
lelaki itu. Gosh…
“Yah, memang. Tapi… ” Eliz menggigit bibirnya seperti sedang mencoba untuk mengucapkan sesuatu,
“Kau sebaiknya jangan dekat-dekat dengan dia.”
Callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com
Sebastien melangkahkan kakinya keluar ruangan. Sudah hampir
jam 3. Saatnya istirahat makan siang. Ia berniat mengajak Xara dan Eliz makan
bersama . Tentu jika mereka tidak keberatan. Karena baginya, makan siang sendirian
sangat tidak menyenangkan. Ia melirik mengamati ruangan yang biasa mereka
kunjungi saat istirahat makan siang. Kosong. “Kemana mereka ?” Pikir Sebastien
kesal. Sebenarnya, tadi, Sebastien sudah diajak untuk makan siang bersama oleh
Anthony dan segerombolan Chef lainnya, namun ia menolak. Karena … Yah, ia ingin
makan siang dengan gadis itu. Ia ingin makan siang dengan Xara.
Dan sekarang ia menyesali keputusannya itu. Ia tadi
seharusnya menerima tawaran Anthony.
Gang kecil itu tampak ramai. Ia bisa maklum, karena memang
hanya Resto di gang ini yang tetap buka saat jam makan siang pegawai. Sebastien
berjalan menyusuri deretan Café yang dipenuhi pengunjung itu sendirian. Dan
diantara mereka ia melihat … “Xara ?”
Callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com
Xara menjejakkan kakinya dengan kesal beberapa menit setelah
Eliz meninggalkan dia demi menemani Edbert—kekasihnya—makan siang. Ia tahu,
kalau tadi ia ikut bersama Eliz, ia pasti juga akan jadi ‘obat nyamuk’ disana. Tapi
kan … “Ah, sudahlah!” Xara mengomeli dirinya sendiri. Ia memandang
sekelilingnya, dan mendapati lelaki dengan rambut coklat sedang
melambai-lambaikan kedua tangan ke arahnya.
Xara tidak dapat menahan dirinya untuk tersenyum. Tidak,
tidak. Bukan karena ia mulai tertarik kepada lelaki itu, hanya karena caranya
melambai-lambaikan tangan terlihat lucu. Ia tersenyum karena cara Sebastien
melambaikan tangan, tidak ada alasan lain.
“Temani aku makan,” pinta Sebastien tepat saat Xara berada 15
senti di depannya. Ia menarik lengan Xara, tanpa menunggu jawaban gadis itu.
Xara berpikir untuk melepaskan lengannya dari genggaman Sebastien, namun ia
mengurungkan niatnya. Ia mensugesti dirinya sendiri, Ia menarik lenganku hanya
sebagai teman bukan ?
Mereka terhenti di sebuah resto klasik bernuansa romawi. Di
setiap sudut-sudut ruangan selalu tampak hiasan berupa patung-patung wanita dan
prajurit. Xara mengamati sekeliling ruangan itu, hampir semua tempat duduk
penuh. Namun entah mengapa, ruangan terasa sepi. Hanya musik yang dapat
didengar Xara, tidak ada suara bercanda, bercakap-cakap dan semacamnya. Semua
pengunjung di tempat itu seperti sedang menikmati sesuatu. Xara juga merasa ada yang aneh dengan
arsitektur resto ini. Semua tempat duduk seperti dirancang untuk selalu
menghadap jendela. Secara tidak sengaja pandangan Xara terlempar kearah jendela
besar itu. Mulutnya ternganga …
“Kau boleh bilang ‘wow’ nanti,” Sebastien menyeret kursi
Xara, baru kemudian duduk di kursinya. Xara duduk dengan perlahan, pandangan
matanya tidak dapat lepas dari apa yang ada di balik jendela itu. Semua itu terlalu mempesona.
Jendela itu bagai sebuah kanvas, yang di sisi kanannya
dilukis dengan bulatan-bulatan bunga tulip putih dan pepohonan yang kering
kerontang di sisi seberangnya. Dua objek menarik itu dipisahkan oleh aliran
sungai bewarna hijau jernih. Di antara pohon-pohon tak berdaun itu, terdapat
sebuah rumah kecil yang terbuat dari kayu, yang terlihat mencolok disinari
cahaya mendung langit.
“Xara, kau mau pesan apa ?” Tanya Sebastien. “A-aku tidak
makan. Dompetku ketinggalan” Jawab Xara gugup. Tadi Sebastien berkata hanya
untuk menemaninya makan bukan ?
“Setidaknya kau pesan sesuatu. Tenang saja, aku yang
traktir.” Sebastien menyodorkan buku menu kepada Xara. Ragu ragu ia membuka sampul coklat
tebal itu perlahan, dan membaca isinya. Ia terperanjat melihat angka angka yang
tertera disana, “Aku tidak lapar.” Xara menutup buku menu itu dan
menyerahkannya ke Sebastien. Sebastien menatapnya untuk sesaat, “Kau yakin?”
Xara mengangguk. Lagipula ia ingin untuk lebih menikmati
pemandangan di depannya. Entah kenapa, dengan melihat bunga tulip, pohon pohon
kering, serta cuaca mendung membuat hatinya lebih … damai. Tidak ada hening
yang merayapi mereka selama menunggu pesanan datang, Bahkan sampai pesanan
Sebastien datang. Xara merasa Sebastien adalah teman mengobrol yang
menyenangkan. Ia dapat dengan leluasa bercanda, mengemukakan pendapatnya,
tertawa sekeras-kerasnya … Dan Oh, oh,
pernah suatu kali mereka tertawa terlalu keras, sangat keras sampai hampir
seluruh pengunjung di resto itu menatap kearah mereka. Ia tidak tahu mengapa
dulu ia bisa menyamakan Sebastien dengan Peter ...
Callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com
Xara melirik jam tangannya, sudah jam 6, saatnya pergantian shift. “Akhirnya,” batin Xara. Dengan
cepat, ia berjalan menuju locker room.
Xara takut, jika lebih lama dari ini, perutnya yang mulai meronta kelaparan ini
akan menimbulkan masalah baginya. Misalnya saja dari yang terburuk : pingsan. Mungkin
ia sudah bersikap bodoh dengan menolak Sebastien mentraktirnya pada saat makan
siang tadi. Ia meraih tas ranselnya dan melihat kotak plastik—seperti kotak
bekal— di sudut sisi lokernya. Ia mengambil kotak plastik itu dan membaca memo
di atasnya.
Aku tahu kau lapar,
Xara. Jangan menyangkal itu. Kuharap kau tidak ada masalah dengan seafood.
Sebastien ‘Imnotpeter’
Sebastien ? Dia yang melakukan semua ini ?
Xara tersenyum tanpa alasan dan segera melahap habis makanan
yang dirasakannya sebagai Bouillabaisse itu. Sejenak, ia merasa jantungnya
berdetak lebih cepat dari biasanya. Dan memori akan ucapan Sebastien setelah ia
meminta maaf pada saat itu terulang …
‘Kurasa aku tertarik
padamu’
Callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com
Callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com
To be continued…
Thanks for reading :)
Comment please :D means alot for me C:
Thanks for reading :)
Comment please :D means alot for me C:
Minggu, 15 April 2012
Bouillabaisse :)
PROLOG
Gadis itu membencinya. Itulah
anggapan pertama Sebastien ketika melihat Xara. Bibirnya selalu mengatup saat
mereka berbicara. Tidak pernah tersenyum walaupun Sebastien sedang
menceritakan lelucon padanya. Xara juga selalu menatap tajam ke arahnya,
membuat Sebastien selalu berpikir 5 kali akan apa yang sedang ia perbuat.
Callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com
Pagi itu pagi yang indah bagi
Xara. Cuaca mendung dan berangin menyejukkan hatinya. Ia melangkah masuk dan
tersenyum lebar, “Bonjour” sapanya kepada Elizabeth. Elizabeth menoleh dan
tersenyum, “Hai, kau mau ?” tanyanya sambil menyodorkan sebungkus plastik potato chips. “Tidak, tidak. Bukannya
kau tahu kalau aku sedang diet ? Ah, ngomong ngomong, dia sudah datang ?” Tanya
Xara hati hati. Elizabeth memutar kepalanya, “Tuh,” Xara melongokkan kepalanya
untuk melihat apa yang dilihat Elizabeth. Ia menyadari sosok itu. Sebastien
sedang sibuk mengaduk-aduk baskom berisi cairan kental sambil sesekali melihat
tulisan di sebelahnya. “Dia sedang belajar resep baru.” Jelas Eliz tanpa
ditanya. Xara hanya mangut-mangut
mendengar penjelasan Eliz. Sejenak perasaan bahagia yang dirasakannya
beberapa menit yang lalu lenyap. Xara tidak ingin bertemu dengan dia. Xara
tidak ingin bertemu dengan Sebastien. Terlambat. Sebastien sudah menyadari
keberadaannya. Ia tersenyum kepada Xara—entah terpaksa atau tidak—“Xara, kau
sudah datang ?” Xara menarik nafas dalam dalam, “Kalau aku belum datang, lalu
yang kau lihat ini siapa ?” balas Xara tanpa ada unsur candaan sama sekali di
setiap kata-katanya. Sebastien tertawa, “Iya, iya, aku minta maaf sudah
menanyakan pertanyaan semacam itu” Xara mengabaikan jawaban Sebastien. Ia
berjalan menuju locker room dan
meletakkan tas punggungnya di sana. Begitu ia kembali, ia melihat wanita dan
pria duduk di meja dan melihat-lihat menu
di atas meja mereka. Dengan setengah berlari ia menghampiri pasangan muda
tersebut. Mendengarkan, mencatat, dan mengulang makanan yang mereka pesan.
Callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com
Sebastien mengangkat kedua
sudut bibirnya, melihat gadis itu berlari tergopoh-gopoh menghampiri
pengunjung. Ia kira hari ini mood Xara sedang bagus, tapi rupanya ia
salah. Kalau mood Xara sedang bagus,
seharusnya gadis—paling tidak— tersenyum padanya. Atau membalas ucapannya.
“Pesanan” Xara menggantungkan
sebuah kertas kecil dengan penjepit di depan Sebastien. “Oh,” Sebastien membaca
tulisan di depannya. 2 Rosella tea dan
croissant. Ia melipat lengan bajunya, meletakkan tray berisi adonan di oven, dan menunggu sampai bunyi ting terdengar.
Callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com
“Kau belum pulang ? Bukannya setelah ini ada
penggantian shift ?” Tanya Sebastien
kepada perempuan didepannya. Xara menatap Sebastien sekilas dan kembali
melanjutkan mengobrak-abrik tasnya.
“Dompetku hilang” gumamnya tanpa menoleh Sebastien. Sebastien menatap
perempuan itu lekat-lekat, “Mau kubantu ?” Xara sejenak berhenti dari aktivitas
mengobrak-abriknya, “Terserah kau.” Ia menatap tangan Sebastien dan menunjuk
kearah kotak plastik yang dipegangya, “Apa itu ?” Sebastien meletakkan mangkuk
plastik itu di bangku sebelahnya, “Bouillabasse,
kau mau ?” Tanya Sebastien menawarkan. Mendengar Xara tidak menjawab
pertanyaannya, ia meneruskan mencari dompet Xara. Xara terdiam memandangnya untuk beberapa
saat, baru kemudian berjongkok dan menyingkirkan segala sesuatu yang ada di
hadapannya. Sebastien menelusuri jalan yang tadi dilewatinya. Menyapu setiap
sudut ruangan. Pandangannya terhenti begitu melihat benda cokelat bergaris
garis hitam dan merah tergeletak di depannya. Ia membuka dompet itu untuk
memastikan dompet itu milik Xara. Matanya terbelalak melihat foto yang terpampang disana. Dua sosok yang
ia yakini sebagai Xara dan—mungkin—pacarnya tersenyum lebar menghadap kamera.
Lelaki itu merangkul pundak Xara, dan seumur hidup Sebastien bekerja di L’ambrosie ia tidak pernah melihat Xara
sebahagia itu. Bahkan ketika ia sedang bersama Eliz. “Kau sudah menemukannya ?
Dompetku ?” Mendengar suara Xara dibelakangnya, spontan Sebastien berbalik dan
menjatuhkan dompet yang ia pegang. Xara menatap Sebastien curiga, ia maju
selangkah dan mengambil dompetnya, membuka isinya, dan bertanya dengan nada
menyelidik, “Kau melihat isinya?” Sebastien menelan ludah. Ia benar-benar
bingung akan apa yang harus ia katakana saat itu. Dan akhirnya, “Maafkan aku,”
Ia mendongak menatap Xara, “Awalnya aku hanya ingin memeriksa apakah itu
dompetmu atau bukan.. dan aku tidak sengaja melihat fotomu disana.” Sunyi
merayapi mereka berdua. Sebastien merasa sudah menjelaskan semuanya, dan ia
melakukan hal yang benar. Ia sudah siap apabila Xara Eloise akan marah padanya,
membanting meja, atau bahkan menghabisinya ditempat.
Namun
kenyataan berkata sebaliknya, Xara hanya diam dan menatap Sebastien sampai
seorang pekerja shift malam datang
dan mengambil alih tugasnya.
Callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com
Mungkin
kenyataan tidak sepenuhnya berbeda, hari ini Xara menjadi lebih pendiam kepada
siapa saja. Si-a-pa-sa-ja. Kepada
Eliz, kepada Mabel, dan—tentu saja—kepadanya. Mungkin Sebastien telah melanggar
privasi gadis itu kemarin. Ia tidak seharusnya membuka dan melihat isi foto
dompet itu. Sebastien mengutuki dirinya sendiri.
Baiklah,
sepulang kerja nanti, ia akan meminta maaf kepada Xara tentang hal kemarin,
Sebastien bertekad dalam hati. Ia melirik Xara yang sedang ‘bercanda tawa’
dengan Eliz walaupun disana terlihat sekali bahwa Xara tidak sedang tertawa.
Callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com callmemilii.blog.com
Xara
meraih tas punggungnya, dan menutup pintu loker. Ia baru akan melangkah ketika
menyadari Sebastien sedang berdiri di hadapannya. “Xara,”bisiknya pelan, “Aku
benar benar meminta maaf karena sudah melanggar privasimu—jika itu yang kau
pikirkan.” Xara bisa melihat Sebastien adalah perayu yang handal, karena
seketika waktu itu juga, Xara luluh karena ucapannya. “Kau tidak perlu meminta
maaf. Bukan salahmu.” Xara menggeser bahu Sebastien dan pergi meninggalkannya
begitu saja.
“Sebenarnya
apa salahku ?” Sebastien berbalik, menyambar tangan Xara dan menahannya.
“Kau
tidak salah apa- apa.”
“Lalu
kenapa kau bersikap sinis padaku ?”
“Aku tidak
sinis padamu.”
“Jelas
kau sinis padaku, hanya orang buta yang tidak bisa melihatnya.” Ucap Sebastien
geram. Ia sudah mencoba bersikap ramah terhadap gadis itu namun rasanya sikap
ramahnya itu tidak berarti apa apa bagi Xara.
Dan, Oh
ya, kesabaran ada batasnya.
“Kau
hanya mirip dengan Peter. Bahkan terkadang aku merasa aku sedang bersamanya
ketika menatapmu.”
Peter ? Siapa itu ?
Seakan
bisa membaca pikiran Sebastien, “Dia pacarku. Tapi kami sudah putus beberapa
bulan yang lalu.” Xara menegaskan
“Kenapa
… kau putus ?” Sebastien meragukan pertanyaan ini, ia takut kalau gadis itu
akan memusuhinya lagi, menatapnya sinis lagi…
Ternyata
tidak.
“Dia
mengkhianatiku.” Xara menarik nafas panjang. Aku harus memberitahunya, harus.
“Selingkuh
?”
“Bukan,
ehm, lebih seperti… memfitnah.” Xara membasahi bibirnya yang kering, “Dulu dia
koki disini, sama sepertimu. Dan entah mengapa, setiap aku melihatmu, aku
melihatnya. Mungkin karena kau terlalu mirip dengannya. Konyol memang, tapi
yah, begitulah.”
Sebastien
menghembuskan nafas lega. Ternyata.. Selama ini Xara selalu melihatnya sebagai
Peter, bukan sebagai Sebastien. Dan itu berarti Xara membenci Peter. Bukan
Sebastien.
“Dengar
Xara,” Sebastien menggenggam erat bahu Xara, “Aku memang tidak tahu pasti
tentang hubunganmu dengan Peter tapi yang jelas, Aku bukan Peter” Sebastien menekankan tiga
kata terakhir yang ia ucapkan.
Xara
bisa merasakan matanya berair. Ia merasa begitu bodoh karena sudah menyamakan
dua pribadi yang jelas jelas berbeda.
Xara bisa melihat dirinya sendiri di pantulan mata Sebastien. Terlihat sangat berantakan.
Berantakan dan tolol.
“Aku
bukan Peter. Aku tidak akan mengkhianatimu.”
Air
mata Xara jatuh saat Sebastien mengucapkan kalimat itu. Ia tahu ia salah,
“Maaf, aku…”Xara menghapus air matanya dan memaksa suara keluar dari
tenggorokannya, “Aku minta maaf atas sikapku yang bodoh selama ini. Aku egois
karena sudah…”
“Kau
tidak salah apa apa. Mungkin kau hanya… trauma.” sahut Sebastien memotong
kalimat Xara barusan. Ia melingkarkan tangannya di bahu Xara. “Dan jangan salahkan
aku, Xara. Kurasa aku mulai tertarik padamu.”
To be continued.. :)
Comment please :)
Thanks :D Hope U like it
Sorry kalo ada typo :(
Sorry kalo ada typo :(
Langganan:
Postingan (Atom)